Rabu, 10 Juli 2013

Sunset in Jogja



Karena tema kali ini adalah sampaikan walau satu ayat, saya akan berbagi poin lain dalam program tv  ‘apabila kamu mencintai apa yang di bumi, maka kamu akan dicintai yang di langit’. Makjleb banget buat saya yang sangat skeptis terhadap apapun. Selama ini saya hanya memikirkan diri saya sendiri. Sudah bawaan lahir seperti itu, ditambah latar belakang ilmu saya adalah ilmu politik, di mana ‘tidak ada kawan dan lawan, yang ada hanya kepentingan’. Saya menghayati betul konsep tersebut dalam hidup saya. Saya tidak mau sih mencari musuh, saya tidak mau juga terlalu dekat dengan orang. Kadang saya hanya berinteraksi sungguh-sungguh apabila saya memiliki keperluan yang menyangkut urusan saya dengan mereka. Ya, tidak sampai seperti politik sungguhan di mana kadang jadi lawan, kadang jadi teman sesuai kepentingan. Saya hanya merasa tidak perduli dengan semua orang yang tidak berkepentingan dengan saya. Sungguh-sungguh tidak direkomendasikan. Mungkin karena itulah, Yang di langit menilai saya kurang penyayang sehingga belum pantas untuk disayang. Mungkin akan berakibat pada do’a-do’a yang saya panjatkan, kehidupan dan masa depan saya. Maaf ya. Mari introspeksi.

Kemudian, Yusuf Mansyur menambahkan poin selanjutnya. Do’a pada masa puasa itu sangat mustajab. Insya Allah doa-doa yang dipanjatkan pada bulan Ramadhan akan dikabulkan. Pahala amal ibadah juga dilipatgandakan. Oleh karena itu, usahakan jangan banyak tidur, perbanyaklah amal dan do’a pada bulan Ramadhan.

Selanjutnya, dikisahkan ketika Rasul sedang di Masjid Nabawi bersama para sahabat, rasul mengucap ‘amin’ tiga kali. Setelah itu Sahabat bertanya, “Ya Rasul, mengapa Engkau mengucap Amin padahal tidak ada yang sedang memimpin do’a di sini?” Rasul menjawab bahwa baru saja Malaikat berada di situ dan berdo’a kepada Allah. Pertama, Malaikat berdoa agar jangan diterima puasa seorang manusia yang tidak meminta maaf kepada orangtua, kedua, manusia yang tidak meminta maaf pada suami/istri dan yang ketiga, orang yang tidak meminta maaf kepada saudara-saudaranya. Saya jadi ingat waktu awal Ramadhan pada masa kuliah. Saat itu kelas Ilmu Alamiah Dasar. Kelas itu mengajarkan tentang ilmu-ilmu alam. Idenya sih, diajarkan ke anak sosial agar kelak di kemudian hari apabila mahasiswa sosial berkesempatan menjadi pejabat atau pengambil keputusan, kebijakan yang diambil akan mempertimbangkan konsekuensi dan dampak terhadap lingkungan dan alam merujuk dari pengetahuan tersebut. (cocok buat gue banget.*merasa diri calon pejabat) Dosen IAD ini cukup alim. Beliau mempertanyakan kenapa orang maaf-maafan malah pada saat Lebaran, padahal seharusnya pada saat sebelum bulan Ramadhan. Lalu sore ini saya langung sms Bapak dan Ibuk untuk mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan. Mungkin mereka langsung bertanya-tanya, mengucek-ngucek mata mempertanyakan apa mereka salah baca atau mungkin mengira saya sedang error. :D :D Pak Mahfud MD, yang mengutarakan poin ini di tv, menyarankan agar kita segera minta maaf ke kerabat mumpung baru awal-awal puasa. Yess.. Kemudian saya cek HP, ibuk dan bapak membalas. Entah mereka mikir saya error atau gimana, tapi dalam sms balasan, ibuk juga menyelipkan kalimat ‘semoga Allah selalu ijabahi do’a kita.’ Amin.. amin ya Rabb.. Ibuk.. doakan anakmu mencapai cita-cita. *nangis di pojokan.

Poin terakhir ya saudaraku yang tercinta: sorga rindu pada empat macam manusia. Yang pertama, sorga rindu pada orang yang gemar membaca Al-Qur’an. Sebagaimana yang kita ketahui (eh, gak ding, dosen Bahasa Inggris saya melarang menggunakan ‘as we know’ dalam speech, dia bilang, ‘siapa yang tahu? kamu tahu, tapi tidak semua audience tahu’), baiklah, saya tahu dari ustadz dan pelajaran Agama Islam selama ini bahwa Al-Qur’an adalah rule of law dalam kehidupan. Sorga akan merindukan orang-orang yang gemar membaca Qur’an dan menerapkan pada kehidupan. Saya sempat berfikir bahwa membaca Al-Qur’an itu sama saja bohong kalau tidak tahu artinya. Saya juga sempat menyesal bahwa saya tidak belajar Bahasa Arab waktu kuliah. Namun demikian, tidak ada yang sia-sia, toh kita masih bisa membaca terjemahannya. Beberapa waktu lalu saya juga berkesempatan mendengar Kultum shalat Subuh (ya, anda tidak salah baca. Saya memang kebetulan bangun Subuh dan shalat di Masjid. *OMG, sesuatu buat saya yang hobby bangun kesiangan). Pak ustadz menjelaskan bahwa Al-Qur’an yang kita baca ini dapat menjadi penolong bagi kita di kehidupan yang kedua. Bukan kehidupan kedua reinkarnasi seperti di film Kera Sakti perjalanan ke barat mencari kitab suci loh ya. Tentu saja kehidupan di akhirat. Percaya kehidupan kedua kan? Mending percaya aja, daripada gak percaya, udah terlanjur hidup sembarangan di dunia, tapi abis mati ternyata ada! Nah loh nyesel tiada guna kan. *nangis di pojokan neraka deh kalo gitu kasusnya. Kelak kita akan diminta pertanggung jawaban, umurmu yang dikaruniakan Gusti Allah itu kamu gunakan untuk apa. Kalau kita ahh ihh uhh.. kelabakan gak tahu mau jawab apa, Al-Qur’an yang dibaca setiap hari inilah yang akan menolong kita.

Tidak ada salahnya gak bisa bahasa Arab. Ya, tapi tetap sih, saya berkeinginan untuk belajar Bahasa Arab suatu hari jika saya memiliki kesempatan. Kita masih bisa membaca terjemahan Al-Qur’an untuk menerapkan poin-poin hukum Allah. Jika belum sempat membaca terjemahan pun, membaca Al-Qur’an akan bermanfaat menolong kita di akhirat nanti. Syukurlah, saya merasakan keganasan Bapak dan Ibuk saya. Dari kecil saya diomelin mati-matian untuk membaca Qur’an. Walhasil, membaca Qur’an ini sudah sama halnya dengan makan, sekolah, kerja dan keseharian lain. Sudah otomatis dijalani. Kalau ditanya berapa kali saya khatam Qur’an, jawabannya adalah uncountable. Hahaha.. maaf saya sombong dan riya’ pemirsa. Keganasan orangtua dalam menggembleng saya kemungkinan dapat menolong saya di kehidupan kedua. Ya, secara, selama ini saya belum berkontribusi apa-apa untuk kemaslahatan umat. Kalau ditanya, ‘kamu gunakan untuk apa umurmu?’ wah, saya pasti nangis di pojokan juga. Saya juga berharap, kebiasaan saya ini dapat menjadi amal jariyah untuk guru ngaji saya. Guru ngaji saya seorang mas-mas, anaknya seorang imam di Masjid dekat rumah. Masnya ini lulusan pondok, baik budi pekerti, santun dalam ucapan dan cakep banget. Waktu itu saya masih SD, saya pikir mas ini tampangnya persis banget sama Fery personel boyband M.E yang nyanyi lagu Inikah Cinta. Namun demikian, orang yang mengajarkan ngaji dan tajwid pada saya ini kemudian meninggal karena sakit. Semoga tiap ayat yang saya baca akan menjadi amal jariyah ilmu yang bermanfaat untuknya di alam baqa.

Tipe kedua yang dirindukan sorga adalah orang yang gemar menjaga lidah. Jika terluka karena pedang akan dapat disembuhkan, namun jika terluka hati karena tajamnya lidah, akan sulit sekali untuk disembuhkan. Dengan demikian, sorga merindukan orang yang pandai menjaga lidahnya agar sedapat mungkin tidak menyakiti hati orang lain. Semoga termasuk di dalamnya.

Tipe ketiga adalah orang yang memberi makan orang yang lapar, tipe ke-empat adalah orang yang menjalani ibadah di Bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Saya pikir sudah cukup jelas ya, dua tipe ini. Saya sudah capek nulis. Hoho.

Hanya bermodal seruan sampaikan walau satu ayat, apabila terdapat kesalahan yang fatal maupun tidak fatal dalam tulisan ini mohon dikoreksi.