Kemudian kami berjalan-jalan sebentar di kota London. Kami menaiki London Eye sambil melihat penjuru kota dari ketinggian. Kami lalu makan malam bersama di sebuah restoran yang kecil tapi menyenangkan. Makanannya enak. Kami kemudian pulang ke apartemen kami, berjalan kaki sambil bergandengan tangan.
Kamis, 07 Desember 2017
Tanjobi
Pada hari ulang tahun saya, 10 September 2018, saya merayakannya di Inggris. Saya dan suami saya sama2 sudah kuliah S-3 dan sedang asyik menulis penelitian kami masing2. Sore, hampir senja, sepulang dari Perpus kampus, suami saya menjemput saya dan memberikan saya sebuket bunga mawar merah yang isinya banyak, banyak sekali. Saya suka bunga Mawar. Dulu ketika saya baru lahir, Bapak saya menanam Bunga Mawar di halaman samping Rumah Joglo Nenek. Waktu saya kecil, Nenek cerita, katanya karena punya anak perempuan, Bapak menanam Bunga Mawar, supaya anaknya indah dan cantik. Selain indah, Bunga Mawar juga berduri. Dia bisa sangat independen dan melindungi diri dari hal-hal yang tidak mengenakkan. Saya sangat bahagia mendapat sebuket besar Mawar dari suami.
Jumat, 06 Oktober 2017
Motivation of Movement
Paragraf2 awal dari postingan asli saya hapus karena berbagai pertimbangan.
.... juga tentang rational choice. Pandangan ini memiliki kelemahan yaitu bahwa manusia memiliki keterbatasan rasional. Manusia memiliki keterbatasan kemampuan untuk memproses informasi untuk menentukan apa yang benar-benar dia butuhkan. Saya merasa terbatas sekali.
Saya kemudian teringat perbincangan saya dengan tante saya di rumah joglo nenek beberapa tahun lalu. Perbincangan itu pun saya tulis dalam salah satu postingan blog ini. Perbincangan tentang tujuan hidup. Pas banget dulu saya baru menonton film Frankenstein, manusia buatan yang tidak tau tujuan hidupnya. Waktu itu tujuan hidup saya hanya satu, yaitu karir impian. Tante saya yang sangat bertaqwa mengatakan bahwa tujuan hidup manusia cuma satu. "Wah, pas banget seperti saya," pikir saya. Tante saya melanjutkan bahwa tujuan hidup yang satu tadi adalah: Mencari ridho Allah. Apapun yang kita lakukan, bila tidak mendapat ridho Allah, hidup kita pasti tidak tenteram.
Mungkin saya merasa bingung, sedih, menangis, karena saya belakangan bertindak bertentangan dengan mencari ridho Allah. Akhirnya saya menyimpulkan, kebutuhan dlm rational choice tadi adalah kebutuhan akan ridho Allah. Tentang ke depan, bagaimana saya bertindak bersama dengan orang terdekat dalam hidup saya, saya dasarkan atas mencari ridho Allah. Kemudian saya tidak bingung lagi.
Saya membasuh muka dan mata saya yang sembab. Saya minum air putih untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang akibat menangis. Saya menyalakan laptop, menulis ini, saya akan pergi tidur, karena besok saya memiliki pekerjaan yang harus saya selesaikan. Saya harus profesional dalam menjalani hidup.
Mungkin saya merasa bingung, sedih, menangis, karena saya belakangan bertindak bertentangan dengan mencari ridho Allah. Akhirnya saya menyimpulkan, kebutuhan dlm rational choice tadi adalah kebutuhan akan ridho Allah. Tentang ke depan, bagaimana saya bertindak bersama dengan orang terdekat dalam hidup saya, saya dasarkan atas mencari ridho Allah. Kemudian saya tidak bingung lagi.
Saya membasuh muka dan mata saya yang sembab. Saya minum air putih untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang akibat menangis. Saya menyalakan laptop, menulis ini, saya akan pergi tidur, karena besok saya memiliki pekerjaan yang harus saya selesaikan. Saya harus profesional dalam menjalani hidup.
Kamis, 05 Oktober 2017
Detik itu Juga
Saya punya kebiasaan menunda pekerjaan. Tak jarang dengan kebiasaan ini saya memiliki hutang pekerjaan yang menumpuk. Kadang saya bingung sendiri mau menyelesaikan yang mana dulu. Padahal menurut penilaian saya sendiri, entah saya ke-PD-an atau tidak, bila saya mau, saya bisa mengerjakan segala pekerjaan dengan sempurna. Hanya saja, saya menunda-nunda, sehingga berbagai pekerjaantadi tidak maksimal.
Hal tersebut ditambah dengan masuknya saya ke dunia sosial media. Dulu saya merupakan pengguna sosial media yang aktif, bahkan hiper aktif. Dampak dari kegiatan tersebut bagi saya adalah, pertama, saya menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mengelola sosial media. Saya jadi melewatkan banyak hal yang harusnya bisa saya selesaikan dengan waktu yang saya habiskan untuk bermain sosmed. Kedua, saya jadi sedikit fake. Fake di sini dalam artian pertama, saya membagus-baguskan kejadian yang saya alami. Hal ini terlebih ketika saya aktif menggunakan Instagram. Hal-hal biasa yang saya alami selalu saya bagus-baguskan dengan caption yang lebih bagus dari kenyataan dan mempostingnya sebagai foto di IG. Artian fake kedua adalah, saya lebih mengelola kehidupan saya di sosmed daripada kenyataan. Misal saya berteu teman lama atau kerabat jauh. Yang pertama saya pikirkan adalah berfoto bersama dan memikirkan caption untuk foto tersebut. Tidak hanya itu, dalam berbagai agenda, saya lebih mementingkan publikasi di sosmed ketimbang penyelenggaraan agenda yang sebenarnya. Yang ingin saya capai adalah komentar dan rasa kagum dari teman-teman sosmed saya. Artian fake ketiga adalah bahwa saya berusaha sekuat tenaga untuk tampil oke di sosmed, dalam hal ini foto IG yang bisa dikoneksikan di sosmed lain. Setiap acara tertentu atau mau ketemuan dengan orang, saya selalu berusaha membeli baju baru. Saya merasa malu bila baju itu-itu saja yang muncul di sosmed saya. Dengan demikian, saya memalsukan kebutuhan baju-baju saya, yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat. Dampak ketiga penggunaan sosmed yang berlebihan adalah citra yang salah. Memang dengan pencitraan saya di sosmed ada yang tertipu menganggap saya cetar membahana. Namun demikian, ada juga yang salah mengartikan saya terlalu kekanakan dan terlalu alay, sehingga yang bersangkutan tidak percaya saya bisa lulus psikotest untuk pekerjaan yang membutuhkan kedewasaan dan kematangan, pun dia tidak percaya saya satu-satunya yang lulus tanpa syarat dengan nilai bagus di berbagai tes lainnya. Saya ingat waktu remaja pernah nge-fans kakak kelas waktu SMP. Namun demikian, setelah berteman di fb, saya jadi ill feel sama dia. Mungkin saja sosmed bisa membuat orang salah mencitrakan diri sendiri atau membuka kepribadian orang tersebut yang sebenarnya sehingga membuat orang lain jadi ill feel. Atas alasan tersebut, saya memutuskan melepaskan seluruh sosmed saya kecuali twitter. Saya berjanji tidak akan membuka sosmed saya selama dua tahun ke depan. Setelah dua tahun, apabila saya berpikir saya tidak perlu sosmed, saya akan melanjutkan melepaskan sosmed saya.
Terkait menunda pekerjaan ini, saya sedang keteteran dikejar hutang beberapa pekerjaan. Bahkan saya sampai malu kalau ketemu mitra kerja saya karena saya belum sempat menyelesaikan pekerjaan dengannya, sebab saya sedang sibuk mengurus pekerajaan lain dengan deadline lebih dulu. Harusnya, bila saya bisa mengelola waktu dengan baik, saya tidak menghadapi situasi seperti ini.
Seseorang yang saya temui di kantor saya yang lama
Saya bertemu dia di kantor saya yang lama ketika teman kerja saya merekomendasikan dia untuk menjadi moderator dalam konferensi yang kami programkan. Iya, dia adalah tunangan saya yang sebentar lagi menjadi suami saya. Dari pertama dengar namanya, citranya sudah baik. Kata teman saya, dia pintar Bahasa Inggris dan pintar dalam akademis. Pun kata salah satu dosen saya ketika kami rapat, dia sudah akan lulus dalam waktu kuliah kurang dari satu tahun. Tentu saja tidak mungkin dicapai bila menunda pekerjaan seperti saya ini.
Berhubung sudah tunangan, saya mulai tau kehidupan orang hits ini. Yang saya tangkap, pertama, dia adalah orang yang rapi untuk ukuran cowok. Saya heran juga, padahal waktu S1, dia gondrong, bagaimana orang gondrong macam dia bisa rapi. Teman-teman saya yang cowok di teater dulu pada gondrong dan segala-galanya tidak rapi, malah acak adul. Kerapian ini pertama saya lihat dari aplop kiriman pos yang dia kirimkan pada saya. Alih-alih menulis dengan tanngan, dengan niat dia ketik alamat dan pengirim di amplop. Kerapian selanjutnya, saya lihat dari penataan baju di rumahnya yang sangat rapi. Baju-baju kerja diatur dengan sangat rapi. Lha saya, sudah baju dilaundry, tinggal nata saja saya males. Lemari saya acak-acakan. Kadang saya lupa punya baju tertentu karena sudah tertimbun di tumpukan paling bawah dari baju-baju yang tidak teratur.
Hal yang saya tangkap selanjutnya adalah dia Gercep alias gerak cepat. Bila punya tanggungan detik ini, dia mulai menyelesaikan detik ini juga. Pasti itulah kenapa dia bisa lulus kurang dari satu tahun dan memiliki banyak karya. Detik ini selesaikan ini, nanti segera kerjakan hal baru. Nah saya, saya iyain aja kerjaan yang datang, nanti dikerkain besok. Belakangan orang rumah ngirim undangan buat tamu-tamunya dia, tapi ternyata banyak penulisan gelar yang salah. Dia terima kardus undangan itu sore. Dia tanya ke saya template untuk tempelan dan bagaimana membuat nama di tempelan. Saya kirim templatenya seusai Magrib. Masa sekitar jam setengah 8 dia sudah kirim foto ke saya tempelan yang baru yang sudah diprint nama. Itu berarti dia sudah download file dari saya, menamai, ganti font, keluar beli kertas tempelan, dan ngeprint. Kalau saya dalam kondisi itu, sudah pasti besoknya aja saya kerjakan. Sudah capek pulang kantor. Tadi saya tanya lagi apa nempelinnya sudah selesai, dia bilang sudah. Berarti dia sudah nempelin seratusan lebih undangan, masukin plastik, dan mungkin juga sudah mendistribusikannya, karena saat ini dia sudah fokus revisi jurnal. Berarti dia sudah menyelesaikan pekerjaan sebelumnya untuk ganti menyelesaikan pekerjaan selanjutnya.
Saya berterimakasih pada Tuhan bahwa saya dijodohkan dengannya. Pertama, dia adalah orang yang sangat dewasa. Dia bisa mengayomi dan menyayangi saya dengan cara yang sangat dewasa. Kedua, seperti Tambangraras yang hanya mau menikah dengan laki-laki yang lebih pintar darinya, masnya jauh-jauh lebih pintar dari saya. Saya banyak mendapatkan ilmu terkait bidang saya dalam obrolan kami selama ini. Ketiga, dia bisa menjadi contoh yang baik. Dengan melihat berbagai karakteristik baik darinya, saya mengikuti hal-hal baik tersebut dan segera meninggalkan sikap tidak baik saya. Dengan demikian, saya memutuskan untuk menghilangkan kebiasaan menunda pekerjaan dan mengerjakan detik itu juga ketika tanggungan yang datang pada saya.
Malang, 5 Oktober 2017
Hal tersebut ditambah dengan masuknya saya ke dunia sosial media. Dulu saya merupakan pengguna sosial media yang aktif, bahkan hiper aktif. Dampak dari kegiatan tersebut bagi saya adalah, pertama, saya menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mengelola sosial media. Saya jadi melewatkan banyak hal yang harusnya bisa saya selesaikan dengan waktu yang saya habiskan untuk bermain sosmed. Kedua, saya jadi sedikit fake. Fake di sini dalam artian pertama, saya membagus-baguskan kejadian yang saya alami. Hal ini terlebih ketika saya aktif menggunakan Instagram. Hal-hal biasa yang saya alami selalu saya bagus-baguskan dengan caption yang lebih bagus dari kenyataan dan mempostingnya sebagai foto di IG. Artian fake kedua adalah, saya lebih mengelola kehidupan saya di sosmed daripada kenyataan. Misal saya berteu teman lama atau kerabat jauh. Yang pertama saya pikirkan adalah berfoto bersama dan memikirkan caption untuk foto tersebut. Tidak hanya itu, dalam berbagai agenda, saya lebih mementingkan publikasi di sosmed ketimbang penyelenggaraan agenda yang sebenarnya. Yang ingin saya capai adalah komentar dan rasa kagum dari teman-teman sosmed saya. Artian fake ketiga adalah bahwa saya berusaha sekuat tenaga untuk tampil oke di sosmed, dalam hal ini foto IG yang bisa dikoneksikan di sosmed lain. Setiap acara tertentu atau mau ketemuan dengan orang, saya selalu berusaha membeli baju baru. Saya merasa malu bila baju itu-itu saja yang muncul di sosmed saya. Dengan demikian, saya memalsukan kebutuhan baju-baju saya, yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat. Dampak ketiga penggunaan sosmed yang berlebihan adalah citra yang salah. Memang dengan pencitraan saya di sosmed ada yang tertipu menganggap saya cetar membahana. Namun demikian, ada juga yang salah mengartikan saya terlalu kekanakan dan terlalu alay, sehingga yang bersangkutan tidak percaya saya bisa lulus psikotest untuk pekerjaan yang membutuhkan kedewasaan dan kematangan, pun dia tidak percaya saya satu-satunya yang lulus tanpa syarat dengan nilai bagus di berbagai tes lainnya. Saya ingat waktu remaja pernah nge-fans kakak kelas waktu SMP. Namun demikian, setelah berteman di fb, saya jadi ill feel sama dia. Mungkin saja sosmed bisa membuat orang salah mencitrakan diri sendiri atau membuka kepribadian orang tersebut yang sebenarnya sehingga membuat orang lain jadi ill feel. Atas alasan tersebut, saya memutuskan melepaskan seluruh sosmed saya kecuali twitter. Saya berjanji tidak akan membuka sosmed saya selama dua tahun ke depan. Setelah dua tahun, apabila saya berpikir saya tidak perlu sosmed, saya akan melanjutkan melepaskan sosmed saya.
Terkait menunda pekerjaan ini, saya sedang keteteran dikejar hutang beberapa pekerjaan. Bahkan saya sampai malu kalau ketemu mitra kerja saya karena saya belum sempat menyelesaikan pekerjaan dengannya, sebab saya sedang sibuk mengurus pekerajaan lain dengan deadline lebih dulu. Harusnya, bila saya bisa mengelola waktu dengan baik, saya tidak menghadapi situasi seperti ini.
Seseorang yang saya temui di kantor saya yang lama
Saya bertemu dia di kantor saya yang lama ketika teman kerja saya merekomendasikan dia untuk menjadi moderator dalam konferensi yang kami programkan. Iya, dia adalah tunangan saya yang sebentar lagi menjadi suami saya. Dari pertama dengar namanya, citranya sudah baik. Kata teman saya, dia pintar Bahasa Inggris dan pintar dalam akademis. Pun kata salah satu dosen saya ketika kami rapat, dia sudah akan lulus dalam waktu kuliah kurang dari satu tahun. Tentu saja tidak mungkin dicapai bila menunda pekerjaan seperti saya ini.
Berhubung sudah tunangan, saya mulai tau kehidupan orang hits ini. Yang saya tangkap, pertama, dia adalah orang yang rapi untuk ukuran cowok. Saya heran juga, padahal waktu S1, dia gondrong, bagaimana orang gondrong macam dia bisa rapi. Teman-teman saya yang cowok di teater dulu pada gondrong dan segala-galanya tidak rapi, malah acak adul. Kerapian ini pertama saya lihat dari aplop kiriman pos yang dia kirimkan pada saya. Alih-alih menulis dengan tanngan, dengan niat dia ketik alamat dan pengirim di amplop. Kerapian selanjutnya, saya lihat dari penataan baju di rumahnya yang sangat rapi. Baju-baju kerja diatur dengan sangat rapi. Lha saya, sudah baju dilaundry, tinggal nata saja saya males. Lemari saya acak-acakan. Kadang saya lupa punya baju tertentu karena sudah tertimbun di tumpukan paling bawah dari baju-baju yang tidak teratur.
Hal yang saya tangkap selanjutnya adalah dia Gercep alias gerak cepat. Bila punya tanggungan detik ini, dia mulai menyelesaikan detik ini juga. Pasti itulah kenapa dia bisa lulus kurang dari satu tahun dan memiliki banyak karya. Detik ini selesaikan ini, nanti segera kerjakan hal baru. Nah saya, saya iyain aja kerjaan yang datang, nanti dikerkain besok. Belakangan orang rumah ngirim undangan buat tamu-tamunya dia, tapi ternyata banyak penulisan gelar yang salah. Dia terima kardus undangan itu sore. Dia tanya ke saya template untuk tempelan dan bagaimana membuat nama di tempelan. Saya kirim templatenya seusai Magrib. Masa sekitar jam setengah 8 dia sudah kirim foto ke saya tempelan yang baru yang sudah diprint nama. Itu berarti dia sudah download file dari saya, menamai, ganti font, keluar beli kertas tempelan, dan ngeprint. Kalau saya dalam kondisi itu, sudah pasti besoknya aja saya kerjakan. Sudah capek pulang kantor. Tadi saya tanya lagi apa nempelinnya sudah selesai, dia bilang sudah. Berarti dia sudah nempelin seratusan lebih undangan, masukin plastik, dan mungkin juga sudah mendistribusikannya, karena saat ini dia sudah fokus revisi jurnal. Berarti dia sudah menyelesaikan pekerjaan sebelumnya untuk ganti menyelesaikan pekerjaan selanjutnya.
Saya berterimakasih pada Tuhan bahwa saya dijodohkan dengannya. Pertama, dia adalah orang yang sangat dewasa. Dia bisa mengayomi dan menyayangi saya dengan cara yang sangat dewasa. Kedua, seperti Tambangraras yang hanya mau menikah dengan laki-laki yang lebih pintar darinya, masnya jauh-jauh lebih pintar dari saya. Saya banyak mendapatkan ilmu terkait bidang saya dalam obrolan kami selama ini. Ketiga, dia bisa menjadi contoh yang baik. Dengan melihat berbagai karakteristik baik darinya, saya mengikuti hal-hal baik tersebut dan segera meninggalkan sikap tidak baik saya. Dengan demikian, saya memutuskan untuk menghilangkan kebiasaan menunda pekerjaan dan mengerjakan detik itu juga ketika tanggungan yang datang pada saya.
Malang, 5 Oktober 2017
Sabtu, 19 Agustus 2017
Nafsu Terakhir
Baru-baru ini saya membaca Serat Centhini (SC). Niat awalnya, saya membaca SC untuk mempelajari suatu hal di dalamnya, namun setelah menyelesaikannya, saya menemukan pelajaran lain yang lebih berharga. Buku Serat Centhini yang pertama saya miliki adalah Serat Centhini Jilid IV yang ditulis tahun 1970-an dan merupakan tembang asli yang dilatinkan dari Aksara Jawa. Buku ini saya beli dari penjual buku bekas di Yogyakarta yang kebetulan berteman dengan saya di FB. Namun demikian, saya gagal memahami buku ini. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Jawa kuno yang kebanyakan kata-katanya belum pernah saya ketahui sebelumnya.
Karena saya ingin mempelajari suatu hal dari Serat Centhini, saya mencari Serat Centhini yang dituturkan dalam Bahasa Indonesia. Setelah mencari di berbagai toko tidak ketemu, akhirnya pacar saya membelikan Serat Centhini yang dituturkan oleh Elizabeth D. Inandiak dari toko online. Versi Inandiak ini merupakan ringkasan SC dari jilid 1 sampai jilid terakhir, diadaptasi dari tembang-tembang ke bentuk cerita yang mudah dipahami.
SC berisi tentang pengetahuan Jawa dan Islam Jawa yang dituturkan melalui cerita pengembaraan putra-putri Sunan Giri setelah Kerajaan Giri kalah perang melawan pasukan Sultan Agung Mataram. Diceritakan Kerajaan Giri tidak mau tunduk menjadi bagian dari kerajaan Mataram dan tidak mau membayar upeti atau pajak ke Mataram. Karena hal ini, Sultan Agung tidak terima serta meminta Pangeran Pekik di Surabaya yang merupakan adik iparnya untuk menyerang kerajaan Giri. Singkat Cerita, kerajaan Giri kalah dan Sunan Giri ditangkap serta dibawa ke Mataram. Dalam reruntuhan kerajaan Giri, pasukan Pangeran Pekik tidak menemukan putra-putri Sunan Giri. Jayengresmi,putra mahkota Giri melarikan diri dan kebingungan mencari kedua adiknya. Sedangkan kedua adiknya, Jayengsari dan Rancangkapti melarikan diri bersama, ditemani seorang abdinya.
Tokoh utama di sini adalah Jayengresmi. Pada pegembaraan pelariannya sekaligus mencari kedua adiknya, Jayengresmi sampai ke padepokan Ki Ageng Karang dan menimba ilmu di sana. Selesai menimba ilmu, Jayengresmi mengganti nama menjadi Amongrogo yang berarti orang yang memikul raganya. Sampai di sini, ilmu Amongrogo sudah sangat tinggi, dia memiliki pengetahuan luas, baik ilmu Jawa maupun Islam. Amongrogo pun pergi meninggalkan padepokan Ki Ageng Karang menuju ke padepokan teman ki Ageng Karang. Di padepokan ini, Amongrogo menikah dengan Tambangraras, putri pemilik padepokan. Setelah menikah dan memberi pelajaran pada Tambangraras, Amongrogo melanjutkan perjalanan mencari kedua adiknya.
Perjalanan ini membawa Amongrogo ke daerah Gunungkidul, serta mendirikan padepokan dengan dua masjid yang memiliki banyak pengikut, namun pengikut-pengikutnya memiliki kebiasaan atau praktik menyimpang dengan Islam di bawah pimpinan Gathak dan Gathuk, kedua abdi Amongrogo. Kemasyuran dan penyimpangan padepokan ini terdengar oleh Sultan Agung. Menanggapi penyimpangan ini, Sultan Agung memerintahkan patihnya untuk menangkap pimpinan padepokan yaitu Amongrogo. Singkat cerita, Patih Mataram memasukkan Amogrogo kedalam kerangkeng dan menenggelamkannya di Laut Selatan. Namun demikian, kerangkeng tersebut muncul kembali ke permukaan dalam keadaan kosong. Karena kesempurnaan ilmunya, Amongrogo berhasil selamat, bertapa di dasar laut. Amongrogo kemudian mendirikan pulau besi di Laut Selatan dan mengajak Tambangraras, istrinya tinggal di Pulau Besi tersebut. Mereka berdua bebas gangguan karena Pulau Besi tersebut terlindung berkat kekuatan sempurna Amongrogo, sampai suatu hari sebuah kapal membawa Endrasena kakak angkat Amongrogo ke Pulau Besi tersebut.
Endrasena mengabarkan bahwa Sunan Giri, ayah mereka meninggal di penjara Mataram. Endrasena menasehati agar Amongrogo tidak lagi melanjutkan keterasingannya dari kehidupa para makhluk di Pulau Besi dan mengambil tindakan atas kematian ayah mereka. Setelah itu, Amongrogo membawa istrinya, Tambangraras menemui Sultan Agung. Sultan pun tahu siapa Amongrogo dan apa yang ada dalam pikirannya. Sultan Agung menyesal atas kematian Sunan Giri dalam penjaranya. Pembicaraanpun berujung pada kesepakatan bahwa Amongrogo dan Istrinya akan merubah diri menjadi ulat. Ulat jelmaan Amongrogo akan dimakan Sultan Agung, sehingga nantinya akan menitis menjadi anaknya. Ulat jelmaan Tambangraras akan diberikan pada Pangeran Pekik untuk dimakan dengan kondisi sama, bahwa nantinya Ulat tersebut akan menitis menjadi anak keturunan Pangeran Pekik. Keduanya nanti akan dinikahkan, dan keturunan mereka akan meneruskan kepemimpinan Kerajaan Mataram.
Sultan Agung dan ratunya selanjutnya memiliki anak Amangkurat I yang merupakan titisan Amongrogo. Pangeran Pekik dan ratu Pandansari memiliki anak perempuan yang dinikahkan dengan Amangkurat I. Di kemudian hari Amangkurat I memiliki sifat kepemimpinan yang tidak adil. Dia melakukan pembantaian para ulama di seluruh Mataram. Tidak hanya itu, Amangkurat juga membunuh Pangeran Pekik yang merupakan paman sekaligus ayah mertuanya sendiri.
Yang saya petik dari cerita ini adalah tentang keikhlasan. Amongrogo merupakan pribadi yang baik dan taat. Pada pengembaraannya dia mencapai kesempurnaan ilmu yang dia pelajari dari padepokan Ki Ageng Karang. Karena kesempurnaan ilmunya, dia bahkan sampai berhasil membuat Pulau Besi yang bebas dari segala ancaman dan bebas dari kehidupan makhluk. Namun demikian, setelah merubah diri menjadi ulat dan dimakan Sultan Agung, Amongrogo menitis menjadi seorang pribadi yang kejam. Dia melakukan pembantaian begitu banyak ulama di Mataram dan membunuh pamannya sendiri, Pangeran Pekik yang dulu menangkap Sunan Giri dan menyerahkannya ke Mataram. Dalam kesempurnaan ilmu dan kebaikan hatinya, Amongrogo menyimpan sebuah nafsu dan dendam. Nafsu terakhir yang dia pendam atas kematian ayahnya. Nafsu inilah yang merubah Amongrogo menjadi Amangkurat yang kejam.
Dari sini, saya pikir hendaknya kita menyingkirkan nafsu atau hal-hal mengganjal dalam diri kita. Ikhlaskan. Dengan mengikhlaskan segala sesuatu, kemungkinan kehidupan ke depan akan dipermudah dan dihindarkan dari segala keburukan.
Saya pribadi sebelumnya berpikir bahwa saya adalah orang yang ikhlas. Saya menghakimi teman-teman saya yang dalam pandangan saya tidak ikhlas. Biasanya mereka tidak mengikhlaskan benda, kedudukan, bahkan cowok. Terkait hal-hal itu, saya sudah sangat ikhlas. Namun demikian, saya menyadari bahwa saya memiliki hal yang sulit untuk saya iklhaskan. Memang benar saya ikhlas dalam hal yang oleh sebagian besar orang sulit diikhlaskan. Hal ini sudah saya tulis contohnya dalam postingan saya sebelumnya yang berjudul "just another phase on your way to grave". Namun demikian, ternyata saya masih belum mengikhlaskan satu hal dalam hidup. Hal yang mungkin sangat biasa bagi orang lain, namun sangat berarti untuk saya, karena berkaitan dengan perjuangan, tirakat, dan upaya saya selama ini. Satu-satunya tujuan hidup kalau versi berlebihannya. Saya sadar hal ini adalah nafsu terakhir yang harus saya takhlukkan. Saya ingin keikhlasan saya atas semua hal, ilmu yang saya miliki selama ini, beberapa sifat baik saya, skill dan kemampuan saya menjadi hal baik ke depannya dengan mengikhlaskan nafsu terakhir saya. Bukan menjelma menjadi hal tidak baik seperti Amongrogo yang menitis menjadi Amangkurat I.
Karena saya ingin mempelajari suatu hal dari Serat Centhini, saya mencari Serat Centhini yang dituturkan dalam Bahasa Indonesia. Setelah mencari di berbagai toko tidak ketemu, akhirnya pacar saya membelikan Serat Centhini yang dituturkan oleh Elizabeth D. Inandiak dari toko online. Versi Inandiak ini merupakan ringkasan SC dari jilid 1 sampai jilid terakhir, diadaptasi dari tembang-tembang ke bentuk cerita yang mudah dipahami.
SC berisi tentang pengetahuan Jawa dan Islam Jawa yang dituturkan melalui cerita pengembaraan putra-putri Sunan Giri setelah Kerajaan Giri kalah perang melawan pasukan Sultan Agung Mataram. Diceritakan Kerajaan Giri tidak mau tunduk menjadi bagian dari kerajaan Mataram dan tidak mau membayar upeti atau pajak ke Mataram. Karena hal ini, Sultan Agung tidak terima serta meminta Pangeran Pekik di Surabaya yang merupakan adik iparnya untuk menyerang kerajaan Giri. Singkat Cerita, kerajaan Giri kalah dan Sunan Giri ditangkap serta dibawa ke Mataram. Dalam reruntuhan kerajaan Giri, pasukan Pangeran Pekik tidak menemukan putra-putri Sunan Giri. Jayengresmi,putra mahkota Giri melarikan diri dan kebingungan mencari kedua adiknya. Sedangkan kedua adiknya, Jayengsari dan Rancangkapti melarikan diri bersama, ditemani seorang abdinya.
Tokoh utama di sini adalah Jayengresmi. Pada pegembaraan pelariannya sekaligus mencari kedua adiknya, Jayengresmi sampai ke padepokan Ki Ageng Karang dan menimba ilmu di sana. Selesai menimba ilmu, Jayengresmi mengganti nama menjadi Amongrogo yang berarti orang yang memikul raganya. Sampai di sini, ilmu Amongrogo sudah sangat tinggi, dia memiliki pengetahuan luas, baik ilmu Jawa maupun Islam. Amongrogo pun pergi meninggalkan padepokan Ki Ageng Karang menuju ke padepokan teman ki Ageng Karang. Di padepokan ini, Amongrogo menikah dengan Tambangraras, putri pemilik padepokan. Setelah menikah dan memberi pelajaran pada Tambangraras, Amongrogo melanjutkan perjalanan mencari kedua adiknya.
Perjalanan ini membawa Amongrogo ke daerah Gunungkidul, serta mendirikan padepokan dengan dua masjid yang memiliki banyak pengikut, namun pengikut-pengikutnya memiliki kebiasaan atau praktik menyimpang dengan Islam di bawah pimpinan Gathak dan Gathuk, kedua abdi Amongrogo. Kemasyuran dan penyimpangan padepokan ini terdengar oleh Sultan Agung. Menanggapi penyimpangan ini, Sultan Agung memerintahkan patihnya untuk menangkap pimpinan padepokan yaitu Amongrogo. Singkat cerita, Patih Mataram memasukkan Amogrogo kedalam kerangkeng dan menenggelamkannya di Laut Selatan. Namun demikian, kerangkeng tersebut muncul kembali ke permukaan dalam keadaan kosong. Karena kesempurnaan ilmunya, Amongrogo berhasil selamat, bertapa di dasar laut. Amongrogo kemudian mendirikan pulau besi di Laut Selatan dan mengajak Tambangraras, istrinya tinggal di Pulau Besi tersebut. Mereka berdua bebas gangguan karena Pulau Besi tersebut terlindung berkat kekuatan sempurna Amongrogo, sampai suatu hari sebuah kapal membawa Endrasena kakak angkat Amongrogo ke Pulau Besi tersebut.
Endrasena mengabarkan bahwa Sunan Giri, ayah mereka meninggal di penjara Mataram. Endrasena menasehati agar Amongrogo tidak lagi melanjutkan keterasingannya dari kehidupa para makhluk di Pulau Besi dan mengambil tindakan atas kematian ayah mereka. Setelah itu, Amongrogo membawa istrinya, Tambangraras menemui Sultan Agung. Sultan pun tahu siapa Amongrogo dan apa yang ada dalam pikirannya. Sultan Agung menyesal atas kematian Sunan Giri dalam penjaranya. Pembicaraanpun berujung pada kesepakatan bahwa Amongrogo dan Istrinya akan merubah diri menjadi ulat. Ulat jelmaan Amongrogo akan dimakan Sultan Agung, sehingga nantinya akan menitis menjadi anaknya. Ulat jelmaan Tambangraras akan diberikan pada Pangeran Pekik untuk dimakan dengan kondisi sama, bahwa nantinya Ulat tersebut akan menitis menjadi anak keturunan Pangeran Pekik. Keduanya nanti akan dinikahkan, dan keturunan mereka akan meneruskan kepemimpinan Kerajaan Mataram.
Sultan Agung dan ratunya selanjutnya memiliki anak Amangkurat I yang merupakan titisan Amongrogo. Pangeran Pekik dan ratu Pandansari memiliki anak perempuan yang dinikahkan dengan Amangkurat I. Di kemudian hari Amangkurat I memiliki sifat kepemimpinan yang tidak adil. Dia melakukan pembantaian para ulama di seluruh Mataram. Tidak hanya itu, Amangkurat juga membunuh Pangeran Pekik yang merupakan paman sekaligus ayah mertuanya sendiri.
Yang saya petik dari cerita ini adalah tentang keikhlasan. Amongrogo merupakan pribadi yang baik dan taat. Pada pengembaraannya dia mencapai kesempurnaan ilmu yang dia pelajari dari padepokan Ki Ageng Karang. Karena kesempurnaan ilmunya, dia bahkan sampai berhasil membuat Pulau Besi yang bebas dari segala ancaman dan bebas dari kehidupan makhluk. Namun demikian, setelah merubah diri menjadi ulat dan dimakan Sultan Agung, Amongrogo menitis menjadi seorang pribadi yang kejam. Dia melakukan pembantaian begitu banyak ulama di Mataram dan membunuh pamannya sendiri, Pangeran Pekik yang dulu menangkap Sunan Giri dan menyerahkannya ke Mataram. Dalam kesempurnaan ilmu dan kebaikan hatinya, Amongrogo menyimpan sebuah nafsu dan dendam. Nafsu terakhir yang dia pendam atas kematian ayahnya. Nafsu inilah yang merubah Amongrogo menjadi Amangkurat yang kejam.
Dari sini, saya pikir hendaknya kita menyingkirkan nafsu atau hal-hal mengganjal dalam diri kita. Ikhlaskan. Dengan mengikhlaskan segala sesuatu, kemungkinan kehidupan ke depan akan dipermudah dan dihindarkan dari segala keburukan.
Saya pribadi sebelumnya berpikir bahwa saya adalah orang yang ikhlas. Saya menghakimi teman-teman saya yang dalam pandangan saya tidak ikhlas. Biasanya mereka tidak mengikhlaskan benda, kedudukan, bahkan cowok. Terkait hal-hal itu, saya sudah sangat ikhlas. Namun demikian, saya menyadari bahwa saya memiliki hal yang sulit untuk saya iklhaskan. Memang benar saya ikhlas dalam hal yang oleh sebagian besar orang sulit diikhlaskan. Hal ini sudah saya tulis contohnya dalam postingan saya sebelumnya yang berjudul "just another phase on your way to grave". Namun demikian, ternyata saya masih belum mengikhlaskan satu hal dalam hidup. Hal yang mungkin sangat biasa bagi orang lain, namun sangat berarti untuk saya, karena berkaitan dengan perjuangan, tirakat, dan upaya saya selama ini. Satu-satunya tujuan hidup kalau versi berlebihannya. Saya sadar hal ini adalah nafsu terakhir yang harus saya takhlukkan. Saya ingin keikhlasan saya atas semua hal, ilmu yang saya miliki selama ini, beberapa sifat baik saya, skill dan kemampuan saya menjadi hal baik ke depannya dengan mengikhlaskan nafsu terakhir saya. Bukan menjelma menjadi hal tidak baik seperti Amongrogo yang menitis menjadi Amangkurat I.
Jumat, 07 Juli 2017
Kota Baru Sore Hari
Saya tidak bisa untuk tidak mengingat teman saya ini. Dalam beberapa perbincangan, saya beberapa kali menceritakannya. Namanya Maya, teman seangkatan saya waktu S1. Pasca sidang skripsi, kami sama-sama bekerja di instansi kampus. Beberapa waktu pasca wisuda, kami masih saja bekerja di kampus. Saat itu, kami sama-sama berusaha mendaftar suatu beasiswa untuk S2. Kami test TOEFL bareng dan mempersiapkan beberapa perlengkapannya bareng. Namun demikian, saat itu kami tidak lulus beasiswa.
Pada suatu siang, Maya mendatangi kantor saya dan mengatakan akan resign. Dia diterima kerja di salah satu klinik kecantikan ternama, favorit sosialita hits. Saat itu saya terkejut mendengar keputusannya. Saya sendiri berencana akan melanjutkan pekerjaan saya di kampus sambil belajar Bahasa Inggris. Masa Maya bekerja di tempat perawatan kecantikan, dia kan mahasiswa yang sangat cemerlang. Namun demikian, dia mengatakan bekerja di situ karena gaji yang ditawarkan cukup besar. Lagipula, dia akan ditempatkan di Bali, di Kampung halamannya. Dia mengatakan akan mengumpulkan uang dulu dari gajinya tersebut untuk biaya persiapan mencari beasiswa sambil mempersiapkan diri.
Selama bekerja, dia mempersiapkan rencana studi dan berbagai persyaratannya. Dia les IELTS dengan gajinya. Les ini tidak mudah, karena di tempat kerjanya ada shift pagi, siang, dan malam. Sering dia harus berusaha membujuk temannya untuk gantian shift dengannya bila shift tersebut bentrok dengan jadwal les. Setelah selesai les, dia segera tes ielts dan nilainya memenuhi syarat untuk daftar beasiswa maupun sekolah di luar negeri.
Saat itu sedang musim beasiswa Dikti baik dalam dan luar negeri. Saya sendiri pun dapat beasiswa ini untuk S2 dalam negeri dalam periode entah keberapa. Melihat beberapa teman yang sekolah dengan beasiswa ini, Maya berencana mendaftar juga. Namun demikian, ketika semua persyaratannya terpenuhi, beasiswa ini sudah ditutup. Saya adalah angkatan terakhir beasiswa ini. Suatu sore di sebuah tempat makan di kota baru, dia mengatakan pada saya bahwa dia belum apa-apa sementara saya sudah semester dua di S2. Lebih lagi, dia tidak tau mau daftar beasiswa apa karena Dikti sudah tidak menyediakan skema seperti beasiswa saya.
Seperti lagu Sheila, "Tuhan tak akan meninggalkanmu atas yakinmu sejauh ini", saat itu beasiswa LPDP mulai booming. Maya pun mendaftar. Singkat kata, dia lulus dan kuliah di UK. Saat pulang pun, dia terlambat untuk rekruitment dosen di tempat-tempat yang dia targetkan, termasuk di tempat saya. Namun demikian, saat ini dia mengajar di salah satu universitas yang cukup bagus.
Saya menulis ini untuk mengingatkan diri saya sih sebenarnya, bahwa bila satu pintu tertutup, akan ada pintu-pintu lain yang terbuka untuk kita. Kuncinya jangan menangisi pintu yang tertutup tadi. Entah sambil apapun, selama cita-cita tadi tidak mati dan terus berusaha, In shaa Allah pintu akan terbuka. Lagipula saya juga ingin mewujudkan rencana menikah dan anaknya lahir di luar negeri. In shaa Allah.
Pada suatu siang, Maya mendatangi kantor saya dan mengatakan akan resign. Dia diterima kerja di salah satu klinik kecantikan ternama, favorit sosialita hits. Saat itu saya terkejut mendengar keputusannya. Saya sendiri berencana akan melanjutkan pekerjaan saya di kampus sambil belajar Bahasa Inggris. Masa Maya bekerja di tempat perawatan kecantikan, dia kan mahasiswa yang sangat cemerlang. Namun demikian, dia mengatakan bekerja di situ karena gaji yang ditawarkan cukup besar. Lagipula, dia akan ditempatkan di Bali, di Kampung halamannya. Dia mengatakan akan mengumpulkan uang dulu dari gajinya tersebut untuk biaya persiapan mencari beasiswa sambil mempersiapkan diri.
Selama bekerja, dia mempersiapkan rencana studi dan berbagai persyaratannya. Dia les IELTS dengan gajinya. Les ini tidak mudah, karena di tempat kerjanya ada shift pagi, siang, dan malam. Sering dia harus berusaha membujuk temannya untuk gantian shift dengannya bila shift tersebut bentrok dengan jadwal les. Setelah selesai les, dia segera tes ielts dan nilainya memenuhi syarat untuk daftar beasiswa maupun sekolah di luar negeri.
Saat itu sedang musim beasiswa Dikti baik dalam dan luar negeri. Saya sendiri pun dapat beasiswa ini untuk S2 dalam negeri dalam periode entah keberapa. Melihat beberapa teman yang sekolah dengan beasiswa ini, Maya berencana mendaftar juga. Namun demikian, ketika semua persyaratannya terpenuhi, beasiswa ini sudah ditutup. Saya adalah angkatan terakhir beasiswa ini. Suatu sore di sebuah tempat makan di kota baru, dia mengatakan pada saya bahwa dia belum apa-apa sementara saya sudah semester dua di S2. Lebih lagi, dia tidak tau mau daftar beasiswa apa karena Dikti sudah tidak menyediakan skema seperti beasiswa saya.
Seperti lagu Sheila, "Tuhan tak akan meninggalkanmu atas yakinmu sejauh ini", saat itu beasiswa LPDP mulai booming. Maya pun mendaftar. Singkat kata, dia lulus dan kuliah di UK. Saat pulang pun, dia terlambat untuk rekruitment dosen di tempat-tempat yang dia targetkan, termasuk di tempat saya. Namun demikian, saat ini dia mengajar di salah satu universitas yang cukup bagus.
Saya menulis ini untuk mengingatkan diri saya sih sebenarnya, bahwa bila satu pintu tertutup, akan ada pintu-pintu lain yang terbuka untuk kita. Kuncinya jangan menangisi pintu yang tertutup tadi. Entah sambil apapun, selama cita-cita tadi tidak mati dan terus berusaha, In shaa Allah pintu akan terbuka. Lagipula saya juga ingin mewujudkan rencana menikah dan anaknya lahir di luar negeri. In shaa Allah.
Jumat, 26 Mei 2017
Perjalanan
Tulisan ini akan menceritakan perjalanan saya menemukan jalan kembali. Kembali di sini maksudnya adalah kembali untuk menyerahkan diri pada Allah dalam hal menjalankan kewajiban utama, yaitu Shalat lima waktu. Menurut saya, kewajiban shalat lima waktu adalah kewajiban fundamental dari kewajiban-kewajiban lainnya. Saya memang tidak pernah menghakimi orang terkait agama dan lain sebagainya. Buat saya, urusan orang biar mereka urus sendiri. Namun demikian, hati saya mengatakan agar saya memperhatikan shalat lima waktu orang-orang yang saya putuskan menjadi orang terdekat. Sejauh ini, Alhamdulillah sahabat-sahabat terdekat saya adalah orang-orang yang sebisa mungkin menjaga shalat lima waktu mereka, kecuali sahabat yang beragama lain.
Sebenarnya shalat lima waktu bukanlah hal mudah buat saya. Untuk akhirnya menjaga pelaksanaannya seperti sekarang ini, saya melalui tahapan yang cukup panjang. Saya mulai diminta orang tua saya untuk shalat lima waktu saat saya kelas empat SD. Sebelum itu saya hanya melaksanakan shalat Magrib karena shalat Magrib di rumah saya dilaksanakan secara berjamaah. Dengan demikian, otomatis semua anggota keluarga ikut. Selain itu, saya kadang-kadang melaksanakan shalat ashar dan isya ketika saya ada kelas mengaji di Masjid dekat rumah.
Saya sudah dapat melaksanakan shalat dengan bacaan lengkap sejak kelas satu SD. Saya belajar bacaan shalat dari kelas Agama Islam di sekolah saya. Selain itu, saya mempelajari bacaan shalat dan tata caranya di tempat mengaji saya di Masjid. Terlepas dari hal tersebut, saya tidak memiliki kesadaran untuk shalat kalau tidak disuruh. Saya pikir saya memang belum wajib melaksanakannya karena saya masih kecil. Pernah saya disuruh shalat Duhur oleh tante saya ketika saya di rumah nenek. Setelah salam, saya langsung melepas mukena dan cepat-cepat kembali bermain. Tante saya memanggil saya kembali dan menyuruh saya berdoa dan berdzikir dulu setelah shalat. Gak boleh langsung pergi. Yah, udah mau sholat aja udah mending, kata saya.
Setelah kelas empat, orang tua saya menyuruh saya sholat lima waktu. Katanya saya sudah besar dan sudah wajib shalat. Namun demikian, saya merasa malas untuk shalat. Saya sepenuhnya menyadari kalau saya berkewajiban untuk shalat. Saya juga beriman kepada Allah SWT. Saya hanya malas, benar-benar malas. Waktu itu saya sudah punya kamar sendiri. Awal-awal perintah dari orang tua, mereka memantau saya agar tidak melanggar. Saat waktu shalat, mereka selalu mengingatkan. Saya pun wudhu dan pergi ke kamar. Namun demikian, di dalam kamar saya tidak shalat. Saya menunggu 5 sampai 10 menit kemudian keluar kamar. Saya menghabiskan waktu pura-pura shalat dengan membaca komk, membaca buku, atau ngapain aja di kamar. Hal ini berlanjut sampai awal kelas 6.
Awal kelas 6, ibu saya mendapati saya membaca komik sambil tiduran di kamar sehabis wudhu. Dia bertanya kok saya tidak shalat. Saya menjawab saya akan shalat abis ini. Mungkin ibu saya mulai curiga. Kemudian dia mendapati saya tidak shalat beberapa kali. Bahkan bapak saya sampai mengamati bentuk lipatan sajadah dan mukena saya. Kemudian dia sengaja ke kamar saya setelah saya wudhu. Saya tidak shalat di kamar. Saya bilang saya sudah selesai shalat. Bapak saya bilang saya bohong karena dia mengamati bentuk lipatan dan letak mukena saya tidak berubah sejak kemarin dan menyuruh shalat saat itu juga. Saya pun shalat. Sampai kesekian kalinya, ibu saya memergoki saya melakukan hal yang sama. Saat itu ibu saya menampar saya keras-keras. menampar dalam arti sebenarnya. Saya langsung menangis. Darah keluar dari gusi saya karena ditampar tadi. Rasanya asin, dan saya tidak berani bergerak, sehingga saya merasakan asinnya darah saya cukup lama sambil meneteskan air mata sambil dengerin ibuk saya ngomel-ngomel entahlah lama banget. Hari itu luar biasa sekali menurut saya. Pertama kali saya digampar, terakhir kali juga sih. Harusnya itu merupakan titik tolak di mana saya harusnya shalat lima waktu setelah peristiwa itu, namun saya tetap tidak shalat. Lha gimana, memang saya malas. Saya beberapa kali bilang sama Allah, meminta maaf karena saya malas shalat. PD banget saya, memangnya saya siapa.
Setelah lulus SD saya melanjutkan sekolah ke SMP 1 yang letaknya di kota. Saya tinggal di rumah nenek saya di Magetan kota supaya dekat dengan sekolah. Tinggal jauh dari orang tua membuat saya lebih bebas. Tidak ada lagi yang mengawasi saya untuk shalat. Saya malah tidak pernah shalat sama sekali. Saat kelas satu, saya masuk siang karena ruangan di SMP 1 tidak cukup waktu itu. Selama jam sekolah, terdapat 2 kali waktu shalat. Pun saya tidak pernah shalat. Waktu duhur saya sering ke luar sekolah, ke Puri Hapsari membeli jepit rambut lucu-lucu atau membeli kue-kue di Imelda dengan teman saya Risma dan Nian. Waktu istirahat Ashar, saya makan bakso di kantin atau membaca buku di perpus dengan mereka juga. Catatan untuk Nian, supaya namanya tetap bersih. Nian selalu shalat meskipun ikut jalan dan makan sama kita-kita. Dia menyempatkan waktu untuk itu. Risma tidak pernah sampai saya bertaubat. Namun demikian, saat ini dia sangat khusuk. Saya dapat menilai dari sosmednya.
Saya bertaubat atas perantara guru fisika saya, Pak Yatno. Beliau ini guru fisika yang bertaqwa. Saya lupa petuah lengkapnya sih. Salah satu yang saya ingat adalah tentang proton dan neutron apa ya. Saya lupa pula pelajaran fisika ini. Kata beliau, perputaran proton dan neutron di setiap benda senada dengan statement "Bumi, langit, dan isinya senantiasa bertasbih pada Allah". Semua berputar, di seluruh alam. Planet-planet, satelit, hingga proton yang tak nampak di setiap benda. Ada banyak lagi ilmu alam yang dia kaitkan dengan tanda-tanda kebesaran Allah. Saya tidak tau kenapa, akhirnya saya mendapat hidayah. Saya memutuskan untuk shalat duhur dan ashar di mushala sekolah. Saya juga shalat yg lain di rumah. Pada kemudian hari saya menyadari bahwa hidayah hanya diberikan oleh Allah kepada orang-orang tertentu. Orang-orang yang beruntung. Saya termasuk beruntung mendapat hidayah ini. Sebelumnya, saya disuruh ibu saya, bapak saya, tante saya untuk shalat. Bahkan saya dibentak, dimarahi habis-habisan oleh bapak saya disuruh shalat. Saya ditampar ibu saya disuruh shalat. Toh saya tetap tidak shalat karena saya belum mendapat hidayah. Saya memiliki kesadaran sepenuhnya, niat, dan aksi untuk shalat setelah saya diberikan hidayah.
Sejak saat itu saya berusaha menjaga shalat lima waktu saya. Saya merasa tidak tenang apabila saya belum shalat. Tentu saja kualitas keimanan saya masih jauh dari predikat baik. Namun demikian, saya berharap dan berusaha akan memperbaiki kualitas keimanan saya.
Magetan, 26 Mei 2017
Sebenarnya shalat lima waktu bukanlah hal mudah buat saya. Untuk akhirnya menjaga pelaksanaannya seperti sekarang ini, saya melalui tahapan yang cukup panjang. Saya mulai diminta orang tua saya untuk shalat lima waktu saat saya kelas empat SD. Sebelum itu saya hanya melaksanakan shalat Magrib karena shalat Magrib di rumah saya dilaksanakan secara berjamaah. Dengan demikian, otomatis semua anggota keluarga ikut. Selain itu, saya kadang-kadang melaksanakan shalat ashar dan isya ketika saya ada kelas mengaji di Masjid dekat rumah.
Saya sudah dapat melaksanakan shalat dengan bacaan lengkap sejak kelas satu SD. Saya belajar bacaan shalat dari kelas Agama Islam di sekolah saya. Selain itu, saya mempelajari bacaan shalat dan tata caranya di tempat mengaji saya di Masjid. Terlepas dari hal tersebut, saya tidak memiliki kesadaran untuk shalat kalau tidak disuruh. Saya pikir saya memang belum wajib melaksanakannya karena saya masih kecil. Pernah saya disuruh shalat Duhur oleh tante saya ketika saya di rumah nenek. Setelah salam, saya langsung melepas mukena dan cepat-cepat kembali bermain. Tante saya memanggil saya kembali dan menyuruh saya berdoa dan berdzikir dulu setelah shalat. Gak boleh langsung pergi. Yah, udah mau sholat aja udah mending, kata saya.
Setelah kelas empat, orang tua saya menyuruh saya sholat lima waktu. Katanya saya sudah besar dan sudah wajib shalat. Namun demikian, saya merasa malas untuk shalat. Saya sepenuhnya menyadari kalau saya berkewajiban untuk shalat. Saya juga beriman kepada Allah SWT. Saya hanya malas, benar-benar malas. Waktu itu saya sudah punya kamar sendiri. Awal-awal perintah dari orang tua, mereka memantau saya agar tidak melanggar. Saat waktu shalat, mereka selalu mengingatkan. Saya pun wudhu dan pergi ke kamar. Namun demikian, di dalam kamar saya tidak shalat. Saya menunggu 5 sampai 10 menit kemudian keluar kamar. Saya menghabiskan waktu pura-pura shalat dengan membaca komk, membaca buku, atau ngapain aja di kamar. Hal ini berlanjut sampai awal kelas 6.
Awal kelas 6, ibu saya mendapati saya membaca komik sambil tiduran di kamar sehabis wudhu. Dia bertanya kok saya tidak shalat. Saya menjawab saya akan shalat abis ini. Mungkin ibu saya mulai curiga. Kemudian dia mendapati saya tidak shalat beberapa kali. Bahkan bapak saya sampai mengamati bentuk lipatan sajadah dan mukena saya. Kemudian dia sengaja ke kamar saya setelah saya wudhu. Saya tidak shalat di kamar. Saya bilang saya sudah selesai shalat. Bapak saya bilang saya bohong karena dia mengamati bentuk lipatan dan letak mukena saya tidak berubah sejak kemarin dan menyuruh shalat saat itu juga. Saya pun shalat. Sampai kesekian kalinya, ibu saya memergoki saya melakukan hal yang sama. Saat itu ibu saya menampar saya keras-keras. menampar dalam arti sebenarnya. Saya langsung menangis. Darah keluar dari gusi saya karena ditampar tadi. Rasanya asin, dan saya tidak berani bergerak, sehingga saya merasakan asinnya darah saya cukup lama sambil meneteskan air mata sambil dengerin ibuk saya ngomel-ngomel entahlah lama banget. Hari itu luar biasa sekali menurut saya. Pertama kali saya digampar, terakhir kali juga sih. Harusnya itu merupakan titik tolak di mana saya harusnya shalat lima waktu setelah peristiwa itu, namun saya tetap tidak shalat. Lha gimana, memang saya malas. Saya beberapa kali bilang sama Allah, meminta maaf karena saya malas shalat. PD banget saya, memangnya saya siapa.
Setelah lulus SD saya melanjutkan sekolah ke SMP 1 yang letaknya di kota. Saya tinggal di rumah nenek saya di Magetan kota supaya dekat dengan sekolah. Tinggal jauh dari orang tua membuat saya lebih bebas. Tidak ada lagi yang mengawasi saya untuk shalat. Saya malah tidak pernah shalat sama sekali. Saat kelas satu, saya masuk siang karena ruangan di SMP 1 tidak cukup waktu itu. Selama jam sekolah, terdapat 2 kali waktu shalat. Pun saya tidak pernah shalat. Waktu duhur saya sering ke luar sekolah, ke Puri Hapsari membeli jepit rambut lucu-lucu atau membeli kue-kue di Imelda dengan teman saya Risma dan Nian. Waktu istirahat Ashar, saya makan bakso di kantin atau membaca buku di perpus dengan mereka juga. Catatan untuk Nian, supaya namanya tetap bersih. Nian selalu shalat meskipun ikut jalan dan makan sama kita-kita. Dia menyempatkan waktu untuk itu. Risma tidak pernah sampai saya bertaubat. Namun demikian, saat ini dia sangat khusuk. Saya dapat menilai dari sosmednya.
Saya bertaubat atas perantara guru fisika saya, Pak Yatno. Beliau ini guru fisika yang bertaqwa. Saya lupa petuah lengkapnya sih. Salah satu yang saya ingat adalah tentang proton dan neutron apa ya. Saya lupa pula pelajaran fisika ini. Kata beliau, perputaran proton dan neutron di setiap benda senada dengan statement "Bumi, langit, dan isinya senantiasa bertasbih pada Allah". Semua berputar, di seluruh alam. Planet-planet, satelit, hingga proton yang tak nampak di setiap benda. Ada banyak lagi ilmu alam yang dia kaitkan dengan tanda-tanda kebesaran Allah. Saya tidak tau kenapa, akhirnya saya mendapat hidayah. Saya memutuskan untuk shalat duhur dan ashar di mushala sekolah. Saya juga shalat yg lain di rumah. Pada kemudian hari saya menyadari bahwa hidayah hanya diberikan oleh Allah kepada orang-orang tertentu. Orang-orang yang beruntung. Saya termasuk beruntung mendapat hidayah ini. Sebelumnya, saya disuruh ibu saya, bapak saya, tante saya untuk shalat. Bahkan saya dibentak, dimarahi habis-habisan oleh bapak saya disuruh shalat. Saya ditampar ibu saya disuruh shalat. Toh saya tetap tidak shalat karena saya belum mendapat hidayah. Saya memiliki kesadaran sepenuhnya, niat, dan aksi untuk shalat setelah saya diberikan hidayah.
Sejak saat itu saya berusaha menjaga shalat lima waktu saya. Saya merasa tidak tenang apabila saya belum shalat. Tentu saja kualitas keimanan saya masih jauh dari predikat baik. Namun demikian, saya berharap dan berusaha akan memperbaiki kualitas keimanan saya.
Magetan, 26 Mei 2017
Senin, 22 Mei 2017
Laki-laki Baik
Banyak laki-laki baik dalam hidup saya dan di sekitar saya. Ada ayah saya, adik saya, om-om saya, sepupu-sepupu saya, dan teman-teman saya. Dalam tulisan ini saya akan membahas tentang kakek saya.
Tulisan ini sebenarnya sebagai bentuk saya menepati janji. Dulu saya berjanji untuk menulis tentang keluarga saya seperti penulis Valerie Miner. Saya sudah menulis tentang salah satu om saya dan salah satu tante saya pada postingan sebelumnya. Kali ini kakek saya dari pihak ibu.
Dia bukan benar-benar kakek saya. Ibu saya adalah anak nenek saya dengan suaminya yang terdahulu. Namun demikian, ibu saya tidak pernah mengenal ayah kandungnya. Nenek saya bercerai pada pernikahan pertamanya ketika ibu saya belum satu tahun. Tak berapa lama, kakek asli saya tersebut meninggal, sehingga ibu saya tidak pernah melihat wajah ayah kandungnya sekali pun.
Kebaikan pertama adalah warisan untuk ibu saya. Rumah kakek nenek saya agak masuk ke desa. Kakek punya sebidang tanah di wilayah yang agak ramai. Tanah tersebut diberikan pada ibu saya, yang sekarang menjadi lokasi rumah kami. Dalam hal ini, kakek saya pernah diprotes saudara-saudaranya tentang kenapa tanah tersebut diberikan pada ibu saya, bukannya anak-anak kandungnya saja. Namun kata ibu, kakek tidak pernah membeda-bedakan sekalipun antara ibu dan tante-tante saya.
Kedua, kakek saya berkontribusi besar terhadap pendidikan ibu saya hingga ibu saya berkarir seperti ini. Dulu ibu saya dilamar seseorang yang entah siapa, saya kurang paham. Lamaran tersebut datang ketika ibu saya lulus SMP. Namun demikian, ibu saya mengatakan pada kakek bahwa dia ingin sekolah. Akhirnya kakek mengabulkan keinginan ibu. Kakek saya sampai rela bekerja di sawah orang kaya di desa tersebut untuk menambah biaya sekolah ibu. Ketika ibu melamar pekerjaan pun, kakek saya ikut wira-wiri ke surabaya untuk memenuhi persyaratan. Dengan demikian, kakek saya secara tidak langsung berkontribusi terhadap pencapaian saya sekarang. Ibu saya tidak jadi menikah dini dengan entahlah. Ibu saya akhirnya berjodoh dengan ayah saya yang merupakan anak orang kaya di desa tersebut.
Kenangan saya dengan kakek cukup banyak. Kakek saya adalah orang yang dengan senyum ceria penuh sayang menolong saya bangun di pagi hari pertama saya punya adik. Saya punya adik ketika berumur 4 tahun, sehingga kondisi ini membuat perhatian orang tua terhadap saya yang masih balita berkurang. Kakek saya semacam orang yang melindungi saya dari kondisi ini.
Banyak hal-hal lain. Entah kenapa yang terlintas dalam benak saya adalah kejadian suatu malam ketika saya, nenek, dan kakek pulang dari pernikahan kerabat. Sebenarnya orang tua saya juga ikut. Kemudian kakek nenek mampir ke rumah kami dan membawa daun pintu dari rumah saya. Mungkin dipesan sebelumnya dari tukang dan diletakkan di rumah saya dulu. Saya ikut kakek nenek untuk menginap. Kami jalan kaki ke rumah joglo nenek. Jaraknya cukup jauh melewati sawah, jembatan, dan jalan pinggir sungai. Kami berjalan dengan canda tawa. Nenek saya menggendong anyaman bambu berisi oleh-oleh pernikahan. Kakek saya menyunggi daun pintu. Di tengah jalan, nenek saya merasa capek dan keberatan akan gendongannya. Kemudian, kakek saya menyuruh nenek meletakkan anyaman bambu tersebut di atas daun pintu yang disunggi kakek. Pasti lebih berat, tapi kakek saya bertahan membawa beban tersebut sampai rumah. Kini saya berpikir, kalau tidak sayang, mana mau kakek saya melakukan itu. Oleh karenanya, saya akan menikah dengan orang yang menyayangi saya.
Pernah suatu ketika ketika saya SD, kakek saya jatuh dari sepeda. Jatuhnya cukup parah karena rem blong di jalan turunan, dan kepalanya membentur pagar tembok sebuah rumah. Kakek harus dilarikan ke rumah sakit dan dioperasi. Saya ingat betul, saya menemani nenek saat itu di rumah. Dia tidak ikut ke rumah sakit. Entah apa yang dipikirkan nenek, dia kok malah mencuci piring di sumur. Karena khawatir, saya mengikutinya dan menungguinya di sumur seperti orang kurang kerjaan. Saya tidak berani mengatakan sepatah pun, takut salah ngomong. Lalu nenek mulai terisak. Dia tau saya di situ. Dia kemudian mengatakan semoga kakek selamat sambil tersedu. Lukanya memang sangat parah di kepala, sampai kakek tak sadarkan diri. Nenek tersedu, kemudian curhat ke saya. Dibandingkan suaminya yang pertama, kakek saya ini lebih ngertiin nenek ke mana-mana. Kakek mau diajak diskusi, merintis usaha bersama dan membesarkan anak-anak. Intinya mau diajak omongan dan mendengarkan pendapat nenek. Suaminya yang pertama, boro-boro. Selalu memaksakan kehendak.
Nenek menikah dua kali bukan karena salah dia. Dia menikah karena disuruh ibunya yaitu nenek buyut saya yang saya masih kenal baik dengan dia sampai saya SMP. Setelah saya SMP kelas 3, dia baru meninggal. Saya akan ceritakan tentang dia di kemudian hari, karena dia juga spesial di hati saya. Nenek saya manut saja ketika disuruh menikah. Dia tidak punya pilihan. Suaminya pun juga pilihan nenek buyut. Suami pertama didatangkan dari desa yang agak jauh, Desa Pupus. Kata ibu, semua keluarga menantu nenek buyut saya memiliki kuda putih, kecuali keluarga kakek saya ini. "Lha kok sangar rek!", batin saya. Mungkin nenek buyut men-screening orang-orang kaya di penjuru kecamatan untuk dijadikan besan. Kenalan nenek buyut banyak karena dia seorang pedagang. Nah, karena dipilihkan nenek buyut ini, suami pertamanya gak cocok. Ya memang gak jodo.
Suami kedua yaitu kakek saya juga dipilihkan nenek buyut sebenarnya, tapi Alhamdulillah, suami kedua ini cocok dengan nenek. Pengertian, mau diajak diskusi, dan sebagaimana yang saya sebutkan di atas. Baiknya minta ampun. Kebaikannya dapat dirasakan baik nenek, anak-anaknya, cucu-cucunya, dan para tetangga.
Oh iya, ada kenangan manis saya tentang kakek. elahh, kenangan manis. Di depan rumah joglo mereka terdapat pohon jambu air. Suatu ketika, jambu air sudah pada matang, warnanya merah-merah. Karena buahnya lebat, kakek memutuskan untuk menjualnya dengan menitipkan ke adiknya yang jualan di sekolah depan rumah saya. Kakek memanjat sendiri pohon jambu air tersebut. Di bawah pohon, digelarlah layar yang biasanya untuk menjemur padi. Para tetangga menunggu di bawah pohon. Kakek saya membawa kresek besar di atas pohon. Sesekali kakek memasukkan buah jambu ke kresek, sesekali kakek menjatuhkan gerombolan buah jambu air ke bawah, di atas layar. Para tetangga berebutan mengambili buah jambu tersebut. Sore itu sangat ramai dan menyenangkan. Penuh tawa, saya sampai ngakak, berebutan, dan kekenyangan jambu air.
Kakek saya unik juga. Dia terbiasa mengenakan baju batik dan topi mirip koboi kalau pergi ke mana-mana. Suatu hari dia cerita ke saya bahwa hari sebelumnya dia pergi ke Telaga Sarangan sendirian. ebuset, lha kok ngiwut, kata saya dalam hati. Waktu kutanya emang ngapain ke sana, dia bilang dia ingin refreshing dan piknik aja. Dia jalan ke tempat angkot, terus naik angkot sendiri. Nyampai Sarangan, dia jalan mengelilingi telaga sendiri, sambil menikmati keindahan alam. Kenapa nenek gak diajak? Karena nenek gak terlalu suka piknik-piknikan. Suatu ketika saya SD saya teringat cerita kakek ini dan terinspirasi. Saya mengemasi bekal dalam ransel dan memakai jeans serta jaket. Saya selalu punya uang simpanan hasil angpao lebaran. Saya sudah bersiap berangkat, namun ketika nyampai teras, ibu saya memarahi saya. Ngapain ke sarangan sendiri kayak orang hilang katanya. haha. Waktu dewasa, saya selalu ingat cerita ini, sehingga kadang saya pergi piknik sendiri kalau sendang penat.
Kakek saya sekarang sudah tua. Kemampuan penglihatannya juga sudah berkurang, sehingga dia hanya di rumah saja. Katanya dia khawatir dianggap sombong ketika tidak menyapa orang, padahal memang dia tidak melihat. Saya sedih atas hal ini. Bahkan ke teras saja dia terkendala kondisi tadi. Takutnya ada orang lewat dan dia gak bisa lihat sehingga gak nyapa. Dia di rumah saja.
Kakek saya shalat lima waktu, setahu saya tidak pernah absen. Ketika saya pulang kemarin, saya ke rumah nenek saya. Saat itu sore. Seusai shalat Ashar, saya sok ngelamun memandang ke arah luar jendela ruang shalat. Sebelah ruangan itu adalah kamar kakek saya. Dia habis shalat juga rupanya. Dia melafalkan Dzikir dan do'a-do'a dengan keras. Yaudah saya dengerin aja sambil melihat pemandangan dari jendela. Namun demikian, saya terkejut, di tengah do'anya kakek menyebut nama saya dan adik-adik sepupu saya. Serius, saat itu saya ingin menitikkan air mata. Dia sebut nama kami satu per satu. Semoga diperlancar dalam rezeki, pekerjaan, sekolah, dan jodoh. Intinya do'a yang terbaik buat kami. Ya Allah, kakek, terlepas dari kenangan lucu masa kecil, di masa tua yang sudah tak sesehat dulu dia selalu mendoakan saya dan adik-adik sepupu saya. Ingin rasanya kupeluk saat itu juga, tapi saya sedang kerepotan menghapus air mata dan kakek sedang khusuk berdo'a. Saya kemudian berpikir, segala keberuntungan, beasiswa, sekolah, dan pekerjaan yang selama ini saya dapatkan adalah berkat do'a orang-orang yang menyayangi saya. Terimakasih banya, Kek.
Paragraf penutup. Sering ketika saya di rumah nenek, saya melihat nenek membuatkan kopi pagi dan sore untuk kakek. Nenek menawari saya mau dibuatkan minuman apa, tapi saya tidak suka minuman yang manis-manis. Hal itu menunjukkan keromantisan mereka berdua. Romantis walau hanya dalam segelas kopi. Pernah dulu saya menulis status. Dulu sekali sekitar tahun 2012, saya menulis bahwa saya tidak ingin mendapatkan kisah romantis romeo dan juliet. Saya ingin mendapat rumah tangga romantis seperti kakek dan nenek saya. Mendapatkan laki-laki sebaik kakek saya.
Malang, 23 Mei 2017.
Tulisan ini sebenarnya sebagai bentuk saya menepati janji. Dulu saya berjanji untuk menulis tentang keluarga saya seperti penulis Valerie Miner. Saya sudah menulis tentang salah satu om saya dan salah satu tante saya pada postingan sebelumnya. Kali ini kakek saya dari pihak ibu.
Dia bukan benar-benar kakek saya. Ibu saya adalah anak nenek saya dengan suaminya yang terdahulu. Namun demikian, ibu saya tidak pernah mengenal ayah kandungnya. Nenek saya bercerai pada pernikahan pertamanya ketika ibu saya belum satu tahun. Tak berapa lama, kakek asli saya tersebut meninggal, sehingga ibu saya tidak pernah melihat wajah ayah kandungnya sekali pun.
Kebaikan pertama adalah warisan untuk ibu saya. Rumah kakek nenek saya agak masuk ke desa. Kakek punya sebidang tanah di wilayah yang agak ramai. Tanah tersebut diberikan pada ibu saya, yang sekarang menjadi lokasi rumah kami. Dalam hal ini, kakek saya pernah diprotes saudara-saudaranya tentang kenapa tanah tersebut diberikan pada ibu saya, bukannya anak-anak kandungnya saja. Namun kata ibu, kakek tidak pernah membeda-bedakan sekalipun antara ibu dan tante-tante saya.
Kedua, kakek saya berkontribusi besar terhadap pendidikan ibu saya hingga ibu saya berkarir seperti ini. Dulu ibu saya dilamar seseorang yang entah siapa, saya kurang paham. Lamaran tersebut datang ketika ibu saya lulus SMP. Namun demikian, ibu saya mengatakan pada kakek bahwa dia ingin sekolah. Akhirnya kakek mengabulkan keinginan ibu. Kakek saya sampai rela bekerja di sawah orang kaya di desa tersebut untuk menambah biaya sekolah ibu. Ketika ibu melamar pekerjaan pun, kakek saya ikut wira-wiri ke surabaya untuk memenuhi persyaratan. Dengan demikian, kakek saya secara tidak langsung berkontribusi terhadap pencapaian saya sekarang. Ibu saya tidak jadi menikah dini dengan entahlah. Ibu saya akhirnya berjodoh dengan ayah saya yang merupakan anak orang kaya di desa tersebut.
Kenangan saya dengan kakek cukup banyak. Kakek saya adalah orang yang dengan senyum ceria penuh sayang menolong saya bangun di pagi hari pertama saya punya adik. Saya punya adik ketika berumur 4 tahun, sehingga kondisi ini membuat perhatian orang tua terhadap saya yang masih balita berkurang. Kakek saya semacam orang yang melindungi saya dari kondisi ini.
Banyak hal-hal lain. Entah kenapa yang terlintas dalam benak saya adalah kejadian suatu malam ketika saya, nenek, dan kakek pulang dari pernikahan kerabat. Sebenarnya orang tua saya juga ikut. Kemudian kakek nenek mampir ke rumah kami dan membawa daun pintu dari rumah saya. Mungkin dipesan sebelumnya dari tukang dan diletakkan di rumah saya dulu. Saya ikut kakek nenek untuk menginap. Kami jalan kaki ke rumah joglo nenek. Jaraknya cukup jauh melewati sawah, jembatan, dan jalan pinggir sungai. Kami berjalan dengan canda tawa. Nenek saya menggendong anyaman bambu berisi oleh-oleh pernikahan. Kakek saya menyunggi daun pintu. Di tengah jalan, nenek saya merasa capek dan keberatan akan gendongannya. Kemudian, kakek saya menyuruh nenek meletakkan anyaman bambu tersebut di atas daun pintu yang disunggi kakek. Pasti lebih berat, tapi kakek saya bertahan membawa beban tersebut sampai rumah. Kini saya berpikir, kalau tidak sayang, mana mau kakek saya melakukan itu. Oleh karenanya, saya akan menikah dengan orang yang menyayangi saya.
Pernah suatu ketika ketika saya SD, kakek saya jatuh dari sepeda. Jatuhnya cukup parah karena rem blong di jalan turunan, dan kepalanya membentur pagar tembok sebuah rumah. Kakek harus dilarikan ke rumah sakit dan dioperasi. Saya ingat betul, saya menemani nenek saat itu di rumah. Dia tidak ikut ke rumah sakit. Entah apa yang dipikirkan nenek, dia kok malah mencuci piring di sumur. Karena khawatir, saya mengikutinya dan menungguinya di sumur seperti orang kurang kerjaan. Saya tidak berani mengatakan sepatah pun, takut salah ngomong. Lalu nenek mulai terisak. Dia tau saya di situ. Dia kemudian mengatakan semoga kakek selamat sambil tersedu. Lukanya memang sangat parah di kepala, sampai kakek tak sadarkan diri. Nenek tersedu, kemudian curhat ke saya. Dibandingkan suaminya yang pertama, kakek saya ini lebih ngertiin nenek ke mana-mana. Kakek mau diajak diskusi, merintis usaha bersama dan membesarkan anak-anak. Intinya mau diajak omongan dan mendengarkan pendapat nenek. Suaminya yang pertama, boro-boro. Selalu memaksakan kehendak.
Nenek menikah dua kali bukan karena salah dia. Dia menikah karena disuruh ibunya yaitu nenek buyut saya yang saya masih kenal baik dengan dia sampai saya SMP. Setelah saya SMP kelas 3, dia baru meninggal. Saya akan ceritakan tentang dia di kemudian hari, karena dia juga spesial di hati saya. Nenek saya manut saja ketika disuruh menikah. Dia tidak punya pilihan. Suaminya pun juga pilihan nenek buyut. Suami pertama didatangkan dari desa yang agak jauh, Desa Pupus. Kata ibu, semua keluarga menantu nenek buyut saya memiliki kuda putih, kecuali keluarga kakek saya ini. "Lha kok sangar rek!", batin saya. Mungkin nenek buyut men-screening orang-orang kaya di penjuru kecamatan untuk dijadikan besan. Kenalan nenek buyut banyak karena dia seorang pedagang. Nah, karena dipilihkan nenek buyut ini, suami pertamanya gak cocok. Ya memang gak jodo.
Suami kedua yaitu kakek saya juga dipilihkan nenek buyut sebenarnya, tapi Alhamdulillah, suami kedua ini cocok dengan nenek. Pengertian, mau diajak diskusi, dan sebagaimana yang saya sebutkan di atas. Baiknya minta ampun. Kebaikannya dapat dirasakan baik nenek, anak-anaknya, cucu-cucunya, dan para tetangga.
Oh iya, ada kenangan manis saya tentang kakek. elahh, kenangan manis. Di depan rumah joglo mereka terdapat pohon jambu air. Suatu ketika, jambu air sudah pada matang, warnanya merah-merah. Karena buahnya lebat, kakek memutuskan untuk menjualnya dengan menitipkan ke adiknya yang jualan di sekolah depan rumah saya. Kakek memanjat sendiri pohon jambu air tersebut. Di bawah pohon, digelarlah layar yang biasanya untuk menjemur padi. Para tetangga menunggu di bawah pohon. Kakek saya membawa kresek besar di atas pohon. Sesekali kakek memasukkan buah jambu ke kresek, sesekali kakek menjatuhkan gerombolan buah jambu air ke bawah, di atas layar. Para tetangga berebutan mengambili buah jambu tersebut. Sore itu sangat ramai dan menyenangkan. Penuh tawa, saya sampai ngakak, berebutan, dan kekenyangan jambu air.
Kakek saya unik juga. Dia terbiasa mengenakan baju batik dan topi mirip koboi kalau pergi ke mana-mana. Suatu hari dia cerita ke saya bahwa hari sebelumnya dia pergi ke Telaga Sarangan sendirian. ebuset, lha kok ngiwut, kata saya dalam hati. Waktu kutanya emang ngapain ke sana, dia bilang dia ingin refreshing dan piknik aja. Dia jalan ke tempat angkot, terus naik angkot sendiri. Nyampai Sarangan, dia jalan mengelilingi telaga sendiri, sambil menikmati keindahan alam. Kenapa nenek gak diajak? Karena nenek gak terlalu suka piknik-piknikan. Suatu ketika saya SD saya teringat cerita kakek ini dan terinspirasi. Saya mengemasi bekal dalam ransel dan memakai jeans serta jaket. Saya selalu punya uang simpanan hasil angpao lebaran. Saya sudah bersiap berangkat, namun ketika nyampai teras, ibu saya memarahi saya. Ngapain ke sarangan sendiri kayak orang hilang katanya. haha. Waktu dewasa, saya selalu ingat cerita ini, sehingga kadang saya pergi piknik sendiri kalau sendang penat.
Kakek saya sekarang sudah tua. Kemampuan penglihatannya juga sudah berkurang, sehingga dia hanya di rumah saja. Katanya dia khawatir dianggap sombong ketika tidak menyapa orang, padahal memang dia tidak melihat. Saya sedih atas hal ini. Bahkan ke teras saja dia terkendala kondisi tadi. Takutnya ada orang lewat dan dia gak bisa lihat sehingga gak nyapa. Dia di rumah saja.
Kakek saya shalat lima waktu, setahu saya tidak pernah absen. Ketika saya pulang kemarin, saya ke rumah nenek saya. Saat itu sore. Seusai shalat Ashar, saya sok ngelamun memandang ke arah luar jendela ruang shalat. Sebelah ruangan itu adalah kamar kakek saya. Dia habis shalat juga rupanya. Dia melafalkan Dzikir dan do'a-do'a dengan keras. Yaudah saya dengerin aja sambil melihat pemandangan dari jendela. Namun demikian, saya terkejut, di tengah do'anya kakek menyebut nama saya dan adik-adik sepupu saya. Serius, saat itu saya ingin menitikkan air mata. Dia sebut nama kami satu per satu. Semoga diperlancar dalam rezeki, pekerjaan, sekolah, dan jodoh. Intinya do'a yang terbaik buat kami. Ya Allah, kakek, terlepas dari kenangan lucu masa kecil, di masa tua yang sudah tak sesehat dulu dia selalu mendoakan saya dan adik-adik sepupu saya. Ingin rasanya kupeluk saat itu juga, tapi saya sedang kerepotan menghapus air mata dan kakek sedang khusuk berdo'a. Saya kemudian berpikir, segala keberuntungan, beasiswa, sekolah, dan pekerjaan yang selama ini saya dapatkan adalah berkat do'a orang-orang yang menyayangi saya. Terimakasih banya, Kek.
Paragraf penutup. Sering ketika saya di rumah nenek, saya melihat nenek membuatkan kopi pagi dan sore untuk kakek. Nenek menawari saya mau dibuatkan minuman apa, tapi saya tidak suka minuman yang manis-manis. Hal itu menunjukkan keromantisan mereka berdua. Romantis walau hanya dalam segelas kopi. Pernah dulu saya menulis status. Dulu sekali sekitar tahun 2012, saya menulis bahwa saya tidak ingin mendapatkan kisah romantis romeo dan juliet. Saya ingin mendapat rumah tangga romantis seperti kakek dan nenek saya. Mendapatkan laki-laki sebaik kakek saya.
Malang, 23 Mei 2017.
Pernikahan
Kata orang, kalau kita memvisualisasikan sesuatu dengan jelas dan detail, hal tersebut akan segera terwujud. Kali ini saya akan memvisualisasikan pernikahan saya.
Saya menikah dengan laki-laki baik yang sangat mencintai saya. Pun saya juga mencintai dia. Sesuai dengan ajaran agama untuk memilih pasangan, laki-laki yang saya pilih ini bertaqwa kepada Allah SWT, sehingga menjadi imam yang baik untuk saya. Dia memiliki harta yang cukup untuk membiayai rumah tangga kami. Dia juga memiliki wajah yang tampan. Dia berasal dari keturunan yang baik. Laki-laki ini bisa memahami saya. Dia punya kecerdasan yang tinggi, namun demikian selalu rendah hati dengan kecerdasan yang dia miliki. Dia menggunakan kecerdasan itu untuk kontribusi lingkungan, bangsa, negara, dan menghadapi hal-hal biasa di sekitarnya. Menghadapi orang dari berbagai kalangan, baik yang cerdas seperti dia, maupun yang biasa saja. Hal tersebutlah yang membuat kami saling memahami. Apabila ada hal yang tidak sejalan, selalu kami bicarakan hingga menemukan penyelesaian. Dalam hal ini, dia tidak dominan. Meskipun dia cerdas, dia tidak menganggap dirinya paling benar. Dia selalu mendengarkan pendapat saya dan "menempatkan diri di sepatu saya" untuk memahami apa yang saya rasakan dan pikirkan. Sayapun juga demikian terhadapnya.
Pesta pernikahan kami diselenggarakan di rumah saya pada Bulan Agustus 2017. Tidak benar-benar di rumah sepenuhnya sih ya. Saya meminjam lapangan sekolah di depan rumah saya untuk memasang dekor pernikahan. Kursi tamu pun juga ditata di lapangan tersebut. Ada tenda berwarna biru yang menaunginya. Saya mengenakan jilbab dan baju berwarna peach. Baju Muslim pesta yang unik dan klasik. Baju mempelai pria berwarna hitam. Ada bunga-bungan Melati dan Kanthil menghiasi jilbab saya. Dekor bermaterial kayu, berwarna hitam. Terdapat janur di sisi kiri dan kanan dengan bunga-bunga indah menghiasi dekor janur.
Makanan pesta seperti layaknya di desa saya. Pertama, nasi dengan daging lapis, kemudian sop, dan terakhir es podeng. Saya ingin mempertahankan makanan pesta yang sudah saya temui sejak kecil di desa saya. Selain itu juga terdapat snack denga isian kacang bawang, kue gulung rasa moca, lemper, dan aqua gelas.
Saya memberikan suvenir untuk tamu-tamu undangan saya. Seperti yang sudah saya rencanakan sejak zaman dahulu, suvenir pernikahan saya adalah bibit pohon. Pohon yang saya jadikan suvenir adalah pohon buah-buahan. Alasannya adalah, supaya pohon tersebut ditanam. Tidak dipungkiri, tidak semua orang suka menanam pohon. Apabila pohon buah, kemungkinan akan ditanam karena mempertimbangkan buah yang bisa dipetik setiap musim. Tujuan saya menjadikan bibit pohon sebagai suvenir adalah supaya pernikahan kami berkontribusi untuk lingkungan. Dalam waktu-waktu yang kami lalui dalam pernikahan kami, pohon-pohon tersebut terus tumbuh, menyumbang oksigen, memberikan keteduhan, dan menyumbang buah-buahan.
Setelah pesta pernikahan, saya ngapain ya, tau lah ya -> makan makanan pesta yang sengaja disimpan untuk saya dan suami saya. Maklum, tadi pas di pelaminan hanya makan nasi kuning pas suap-suapan. Masih lapar deh.
Saya ikut suami saya di kota tempat dia bekerja setelah saya menikah. Kotanya sangat menyenangkan. Saya mendapat pekerjaan yang saya sukai. Kami juga berkesempatan untuk melanjutkan sekolah di luar negeri bersama-sama. Seperti yang saya sering tulis dulu, ternyata hal tersebut jadi kenyataan. Saya hamil dan melahirkan di Eropa. Kami saling bantu dalam mengurus anak, mengurus rumah tangga, dan mengurus akademis. Sepulangs sekolah, kami meniti karir masing-masing. Namun demikian, anak kami tetap terawat dengan baik dengan pendidikan baik. Dia pun dapat mencapai cita-citanya. Anak saya satu saja. Maksimal dua. Hal tersebut mempertimbangkan peningkatan pertumbuhan penduduk tak terkendali. Pertumbuhan penduduk berbanding lurus dengan konsumsi bahan pangan dan energi. Keluarga kami sangat perhatian terhadap lingkungan.
Demikian visualisasi pernikahan saya.
Malang, 23 Mei 2017.
Saya menikah dengan laki-laki baik yang sangat mencintai saya. Pun saya juga mencintai dia. Sesuai dengan ajaran agama untuk memilih pasangan, laki-laki yang saya pilih ini bertaqwa kepada Allah SWT, sehingga menjadi imam yang baik untuk saya. Dia memiliki harta yang cukup untuk membiayai rumah tangga kami. Dia juga memiliki wajah yang tampan. Dia berasal dari keturunan yang baik. Laki-laki ini bisa memahami saya. Dia punya kecerdasan yang tinggi, namun demikian selalu rendah hati dengan kecerdasan yang dia miliki. Dia menggunakan kecerdasan itu untuk kontribusi lingkungan, bangsa, negara, dan menghadapi hal-hal biasa di sekitarnya. Menghadapi orang dari berbagai kalangan, baik yang cerdas seperti dia, maupun yang biasa saja. Hal tersebutlah yang membuat kami saling memahami. Apabila ada hal yang tidak sejalan, selalu kami bicarakan hingga menemukan penyelesaian. Dalam hal ini, dia tidak dominan. Meskipun dia cerdas, dia tidak menganggap dirinya paling benar. Dia selalu mendengarkan pendapat saya dan "menempatkan diri di sepatu saya" untuk memahami apa yang saya rasakan dan pikirkan. Sayapun juga demikian terhadapnya.
Pesta pernikahan kami diselenggarakan di rumah saya pada Bulan Agustus 2017. Tidak benar-benar di rumah sepenuhnya sih ya. Saya meminjam lapangan sekolah di depan rumah saya untuk memasang dekor pernikahan. Kursi tamu pun juga ditata di lapangan tersebut. Ada tenda berwarna biru yang menaunginya. Saya mengenakan jilbab dan baju berwarna peach. Baju Muslim pesta yang unik dan klasik. Baju mempelai pria berwarna hitam. Ada bunga-bungan Melati dan Kanthil menghiasi jilbab saya. Dekor bermaterial kayu, berwarna hitam. Terdapat janur di sisi kiri dan kanan dengan bunga-bunga indah menghiasi dekor janur.
Makanan pesta seperti layaknya di desa saya. Pertama, nasi dengan daging lapis, kemudian sop, dan terakhir es podeng. Saya ingin mempertahankan makanan pesta yang sudah saya temui sejak kecil di desa saya. Selain itu juga terdapat snack denga isian kacang bawang, kue gulung rasa moca, lemper, dan aqua gelas.
Saya memberikan suvenir untuk tamu-tamu undangan saya. Seperti yang sudah saya rencanakan sejak zaman dahulu, suvenir pernikahan saya adalah bibit pohon. Pohon yang saya jadikan suvenir adalah pohon buah-buahan. Alasannya adalah, supaya pohon tersebut ditanam. Tidak dipungkiri, tidak semua orang suka menanam pohon. Apabila pohon buah, kemungkinan akan ditanam karena mempertimbangkan buah yang bisa dipetik setiap musim. Tujuan saya menjadikan bibit pohon sebagai suvenir adalah supaya pernikahan kami berkontribusi untuk lingkungan. Dalam waktu-waktu yang kami lalui dalam pernikahan kami, pohon-pohon tersebut terus tumbuh, menyumbang oksigen, memberikan keteduhan, dan menyumbang buah-buahan.
Setelah pesta pernikahan, saya ngapain ya, tau lah ya -> makan makanan pesta yang sengaja disimpan untuk saya dan suami saya. Maklum, tadi pas di pelaminan hanya makan nasi kuning pas suap-suapan. Masih lapar deh.
Saya ikut suami saya di kota tempat dia bekerja setelah saya menikah. Kotanya sangat menyenangkan. Saya mendapat pekerjaan yang saya sukai. Kami juga berkesempatan untuk melanjutkan sekolah di luar negeri bersama-sama. Seperti yang saya sering tulis dulu, ternyata hal tersebut jadi kenyataan. Saya hamil dan melahirkan di Eropa. Kami saling bantu dalam mengurus anak, mengurus rumah tangga, dan mengurus akademis. Sepulangs sekolah, kami meniti karir masing-masing. Namun demikian, anak kami tetap terawat dengan baik dengan pendidikan baik. Dia pun dapat mencapai cita-citanya. Anak saya satu saja. Maksimal dua. Hal tersebut mempertimbangkan peningkatan pertumbuhan penduduk tak terkendali. Pertumbuhan penduduk berbanding lurus dengan konsumsi bahan pangan dan energi. Keluarga kami sangat perhatian terhadap lingkungan.
Demikian visualisasi pernikahan saya.
Malang, 23 Mei 2017.
Minggu, 05 Februari 2017
Berkah Waktu
Sekitar setahun lalu ketika baru pindah ke Malang, saya merasa waktu di Malang terasa begitu cepat. Sangat cepat. Mungkin ini adalah efek dari perpindahan saya dari Yogya atau Magetan yang terletak cukup jauh lebih ke Barat daripada Malang. Di Malang waktu terbit dan terbenam matahari terasa jauh lebih cepat. Karena saya Muslim, saya sudah terbiasa menandai waktu dengan waktu Adzan. Hal ini lebih terasa lagi di Malang, Adzan lebih awal dibandingkan dengan di Magetan atau di Yogyakarta. Terlebih, kebiasaan di Malang, Masjid-Masjid memutar rekaman bacaan Al-Qur'an sekitar satu jam sebelum Adzan. Misal Adzan Magrib pukul 17.30, kumandang Al-Qur'an sebelum Adzan sudah terdengar sebelum pukul 17.00. Matahari juga sudah mulai condong ke Barat. Hal ini membuat suasana terasa sudah hampir malam. Saya pribadi merasa "gopoh", bahasa Jawa untuk buru-buru padahal ada hal yang belum selesai. Terasa buru-buru, waktu di Malang terlalu cepat. Awal pindah ke Malang, saya pernah menulis di Path bahwa waktu di Malang terasa berjalan begitu cepat, setengah 6 kurang sudah Adzan Magrib. Hal ini menunjukkan agar saya harus bergegas. Kira-kira seperti itu. Kalau sudah tau waktu berjalan terlalu cepat, maka saya harus lebih cepat.
Waktu yang terasa cepat ini mugkin bukan hanya perasaan saya saja. Pernah pada awal 2015, saya dan teman saya, Novita, piknik ke Malang. Jam di HP kita (yang notabene on line) berbeda dengan jam di Malang. Serius. Bahkan, kalau kami comment di path, comment kami berada di urutan atas daripada comment yang kami jawab. Waktu di HP kami lebih lambat daripada waktu di jam-jam di Malang yang mungkin considered as waktu sebenarnya pada saat itu. Serius, kami bertanya-tanya tentang hal itu, tapi tidak terlalu memusingkannya lebih lanjut. Namun demikian, fenomena ini tidak saya alami lagi beberapa bulan kemudian, ketika saya pindah ke Malang. Jam di HP yang saya bawa dari Yogya sama dengan jam yang ada di Malang. Entah, saya kurang paham dengan semua ini. halah, lebay. tapi bener loh. saya benar-benar mengalami jam yang lebih lambat di Malang pada Februari 2015. Intinya ya tadi, saya merasa waktu di Malang terasa sangat-sangat cepat.
Namun demikian, hal tersebut berubah sekitar dua bulan ini. Saya terbiasa Sholat dulu sebelum bepergian agar tidak terlewat waktu Sholat ketika sedang sibuk dan agar tidak ribet di luaran. Saat itu saya menuggu-nunggu Adzan, tapi lupa Adzan apa ya. haha. Saya menunggu lama sekali, kemudian saya googling waktu Shalat di Malang bulan itu. Saya mendapati waktu Shalatnya jauh bergeser ke belakang. Jauh sekali. Tumben, kata saya dalam hati.
Bos saya di kantor adalah orang yang sangat religius.Beliau selalu mengingatkan untuk Shalat di awal waktu. Saat itu, waktu beliau menanyakan sudah Shalat atau belum, saya menjawab bahwa waktu itu belum Adzan. Waktu Shalat pada hari-hari tersebut mundur sekali. Kemudian ada satu teman kantor berkata bahwa hal tersebut adalahh berkah waktu. Waktu yang dimundurkan. Saya tidak bertanya lebih lanjut, namun berpikir bahwa berkah waktu adalah waktu terbit dan tenggelam matahari yang mundur serta waktu-waktu Shalat yang mundur. Saya kurang paham juga sih tentang hitungan waktu dalam ilmu pasti. Bukankah maju mundur waktu Shalat maupun terbit dan tenggelam matahari tidak mempengaruhi jumlah waktu dalam sehari? Namun demikian, saya pribadi merasa berpengaruh. Saya merasa mendapat tambahan waktu. Hanya merasa saja. Ketika Adzan Subuh lebih mundur, terbit Matahari mundur, Adzan Magrib Mundur dan tenggelamnya Matahari Mundur, saya merasa waktu lebih banyak, lebih panjang. Mungkin inilah yang dinamakan berkah waktu. Dengan diberikannya berkah waktu ini, hendaknya saya tidak menyia-nyiakannya. Waktu yang diberikan apalagi dengan bonus ini harusnya dimanfaatkan dengan sangat produktif.
Hingga hari ini, Minggu, 5 Februari 2017, saya masih merasakan berkah waktu di Malang. Pukul 17.57, saat saya menulis postingan ini, saya masih melihat langit terang dari jendela kaca kamar saya. Biasanya setengah 6 kurang saja di Malang sudah gelap gulita. Terimakasih Tuhan telah memberikan berkah waktu. Semoga saya dapat memanfaatkan bonus ini dengan sangat baik.
Malang, 5 Februari 2017.
Jumat, 23 Desember 2016
After Office
Adalah Putri Ayu, atau biasa dipanggil Puyu, yang memperkenalkan saya pada Lai-Lai Market Buah. Selain menjual berbagai produk makanan impor, lokal, dan oleh-oleh, dalam swalayan ini juga terdapat sebuah kafe yang bernama Illy Cafe. Puyu sendiri menyebut Lai-Lai sebagi surga makanan, sebab baik produk-produk yang dijual maupun makanan kafenya sangat enak. Puyu adalah anak HI UGM yang rumahnya Malang. Awal-awal saya pindah ke Malang, dia memperkenalkan saya beberapa tempat recommended di Malang.
Perkenalan saya dengan Lai-Lai adalah ketika saya berada dalam transisi pindah dari Yogya ke Malang. Di Yogya, mengerjakan kerjaan di kafe sudah menjadi kebiasaan, baik sendiri maupun bareng teman, karena kafe-kafe di Yogya relatif murah. Pada masa transisi tersebut, orientasi saya juga masih fokus, yaitu segera sekolah lagi.
Dulu saya sering ke Illy Kafe di Lai-Lai sore hari sepulang dari kantor. Mampir makan es krim, atau cemilan lain sambil memikirkan rencana sekolah. Suatu kali di Illy diputar lagu-lagu Chrisye. Lagu Untukku versinya dia menurut saya bagus sekali. Enak didengarkan sore-sore sepulang kantor sambil makan es krim. Seolah-olah ada orang terbaik yang ditakdirkan untuk saya dan pantas untuk ditunggu. Tak perlu khawatir ke manapun dia pergi, atau ke manapun kita pergi mencapai segala rencana kita, orang tersebut akan dikembalikan dan dipertemukan dengan kita lagi. Iya, ke manapun, kedua belah pihak pergi, keduanya akan disatukan kembali. Meski ke ujung dunia katanya.
Ngomongin ujung dunia (dunia kan tidak berujung), bisa melihat tempat-tempat di negara lain adalah fokus yang saya bawa ketika saya ke Malang. Awal-awal pindah, hal tersebut masih sangat terjaga dengan baik. Saya sering memikirkannya di Illy. Serangkaian dengan lagu Untukku tadi, ada lagi lagu Crisye yang saya dengar di Illy yang sebelumnya belum pernah saya dengar. Judulnya Selamat Jalan Kekasih. Ada potongan liriknya gini nih, "selamat jalan kekasih, kejarlah cita-cita". Seolah-olah, tenang saja, kalau kamu pengen mengejar cita-cita, pengen sekolah, pengen ke UN, tidak apa-apa. Raihlah yang terbaik menurut kamu. Kekasih yang ditakdirkan untukmu pasti akan tetap diperuntukkan untukmu ke mana pun kamu mengejar cita-cita.
Seiring berjalannya waktu dan banyaknya pekerjaan di kantor, Lai-Lai, Illy, lagu Crisye, dan fokus yang saya bawa ke Malang sedikit-sedikit mulai pudar. Kadang saya lupa karena saya memilih banyak pergi dengan teman-teman di Malang, saya disibukkan dengan kerjaan kantor, saya over thinking tentang pendapat orang tentang menikah, dan sebagainya. Sedihnya, kadang saya merasa bingung tentang apa yang harus saya lakukan, apa yang harus saya kejar, kenapa saya di Malang, kenapa saya tidak menikah saja dengan salah satu orang yang mendekati saya dan jadi istri yang baik. Serius, kadang saya bingung sendiri tentang arah hidup saya.
Sampai dua minggu lalu, adik sepupu saya dari Jakarta datang ke Malang dan saya mengantarkan dia beli oleh-oleh di Lai-Lai Market Buah. Begitu masuk melalui pintu Illy, ambience ketika saya baru pindah ke Malang terasa kembali. Waktu di mana saya membawa fokus tujuan saya. Di mana saya harus cepat mencapai ini. Sekolah, mengunjungi tempat-tempat di negara lain, ke WTO, ke UN. Tidak perduli ke manapun pergi, tidak perduli ke manapun dan di manapun kekasih yang ditakdirkan untuk saya pergi, bila Allah menghendaki, kami akan dipersatukan, tanpa mengorbankan cita-cita kami.
Semua distraction, semua omongan orang tentang bagaimana seharusnya kita bertindak, hendaknya tidak mengalihkan kita pada track yang sudah benar. Sejauh ini saya sudah berada pada track yang benar, tinggal memacu kecepatan lebih tinggi agar segera sampai ke tujuan. Terimakasih Illy sudah mengembalikan nuansa di mana saya menyimpan baik fokus tujuan saya.
Malang, 23 Desember 2016.
Perkenalan saya dengan Lai-Lai adalah ketika saya berada dalam transisi pindah dari Yogya ke Malang. Di Yogya, mengerjakan kerjaan di kafe sudah menjadi kebiasaan, baik sendiri maupun bareng teman, karena kafe-kafe di Yogya relatif murah. Pada masa transisi tersebut, orientasi saya juga masih fokus, yaitu segera sekolah lagi.
Dulu saya sering ke Illy Kafe di Lai-Lai sore hari sepulang dari kantor. Mampir makan es krim, atau cemilan lain sambil memikirkan rencana sekolah. Suatu kali di Illy diputar lagu-lagu Chrisye. Lagu Untukku versinya dia menurut saya bagus sekali. Enak didengarkan sore-sore sepulang kantor sambil makan es krim. Seolah-olah ada orang terbaik yang ditakdirkan untuk saya dan pantas untuk ditunggu. Tak perlu khawatir ke manapun dia pergi, atau ke manapun kita pergi mencapai segala rencana kita, orang tersebut akan dikembalikan dan dipertemukan dengan kita lagi. Iya, ke manapun, kedua belah pihak pergi, keduanya akan disatukan kembali. Meski ke ujung dunia katanya.
Ngomongin ujung dunia (dunia kan tidak berujung), bisa melihat tempat-tempat di negara lain adalah fokus yang saya bawa ketika saya ke Malang. Awal-awal pindah, hal tersebut masih sangat terjaga dengan baik. Saya sering memikirkannya di Illy. Serangkaian dengan lagu Untukku tadi, ada lagi lagu Crisye yang saya dengar di Illy yang sebelumnya belum pernah saya dengar. Judulnya Selamat Jalan Kekasih. Ada potongan liriknya gini nih, "selamat jalan kekasih, kejarlah cita-cita". Seolah-olah, tenang saja, kalau kamu pengen mengejar cita-cita, pengen sekolah, pengen ke UN, tidak apa-apa. Raihlah yang terbaik menurut kamu. Kekasih yang ditakdirkan untukmu pasti akan tetap diperuntukkan untukmu ke mana pun kamu mengejar cita-cita.
Seiring berjalannya waktu dan banyaknya pekerjaan di kantor, Lai-Lai, Illy, lagu Crisye, dan fokus yang saya bawa ke Malang sedikit-sedikit mulai pudar. Kadang saya lupa karena saya memilih banyak pergi dengan teman-teman di Malang, saya disibukkan dengan kerjaan kantor, saya over thinking tentang pendapat orang tentang menikah, dan sebagainya. Sedihnya, kadang saya merasa bingung tentang apa yang harus saya lakukan, apa yang harus saya kejar, kenapa saya di Malang, kenapa saya tidak menikah saja dengan salah satu orang yang mendekati saya dan jadi istri yang baik. Serius, kadang saya bingung sendiri tentang arah hidup saya.
Sampai dua minggu lalu, adik sepupu saya dari Jakarta datang ke Malang dan saya mengantarkan dia beli oleh-oleh di Lai-Lai Market Buah. Begitu masuk melalui pintu Illy, ambience ketika saya baru pindah ke Malang terasa kembali. Waktu di mana saya membawa fokus tujuan saya. Di mana saya harus cepat mencapai ini. Sekolah, mengunjungi tempat-tempat di negara lain, ke WTO, ke UN. Tidak perduli ke manapun pergi, tidak perduli ke manapun dan di manapun kekasih yang ditakdirkan untuk saya pergi, bila Allah menghendaki, kami akan dipersatukan, tanpa mengorbankan cita-cita kami.
Semua distraction, semua omongan orang tentang bagaimana seharusnya kita bertindak, hendaknya tidak mengalihkan kita pada track yang sudah benar. Sejauh ini saya sudah berada pada track yang benar, tinggal memacu kecepatan lebih tinggi agar segera sampai ke tujuan. Terimakasih Illy sudah mengembalikan nuansa di mana saya menyimpan baik fokus tujuan saya.
Malang, 23 Desember 2016.
Minggu, 20 November 2016
Just Another Phase on Your Way to Grave
Dalam salah satu scene film Spectre diperlihatkan James Bond sedang dalam kondisi terikat di kursi serta menghadapi ancaman dari musuhnya, Erns Stavro Blofeld yang akan menyuntikkan suatu zat pada Bond. Di ruangan itu juga terdapat Dr. Madeleine Swann, seorang psikolog yang juga merupakan orang spesial Bond. Zat kimia tadi bila disuntikkan sampai level tertentu akan menyebabkan Bond lupa ingatan. Bahkan, dia akan lupa pada Madeleine yang merupakan orang yang dicintainya. Blofeld mengatakan tentang Madeleine bahwa pasca penyuntikan zat kimia, "She is just another phase on your way to grave". Benar-benar tidak berarti, hanya orang biasa, dan hanya sepenggal kisah biasa dalam perjalanan hidup Bond menuju ke kuburan. Padahal Madeleine adalah orang yang sangat berarti buat Bond.
Tentang orang yang berarti, kira-kira siapa yang pantas kita anugerahi predikat sebagai orang yang berarti untuk kita? Keluarga, sahabat, guru, orang yang berjasa pada kita, atau cowok-cowok tertentu? Saya pikir ada dua alasan kenapa kita menganugerahi predikat orang berarti dalam hidup kita. Pertama alasan natural, kedua alasan keputusan.
Natural jika kita dan orang bersangkutan saling menyayangi tanpa syarat. Sudah alami, tidak tahu kenapa. Kita menganggap orang tersebut diri kita sendiri. Bila dia senang, kita akan senang. Bila dia sedih, kita akan sedih. Kita menganggap kesulitan dan resiko yang menghampirinya sebagai kekhawatiran kita. Benar-benar tidak rela bila orang tersebut kesusahan. Predikat ini biasanya kita anugerahkan pada keluarga terdekat dan sahabat. Sahabat saya pernah rela jauh-jauh dari UGM ke UMY naik bis untuk mengurus persyaratan kuliah saya saat saya tidak berada di Yogya. Mengurus segala sesuatunya dengan detail. Pernah juga hujan-hujanan naik bis datang ke wisudaan saya. Saya juga tidak rela bila anggota keluarga dan sahabat-sahabat saya mengalami kesulitan. Sebisa mungkin saya akan melakukan berbagai upaya agar kesulitan tersebut dapat dihindari.
Keputusan, bila kita menganggap orang tersebut berarti karena kita memutuskan menganggap orang tersebut berarti. Mungkin saja dia adalah orang penting yang terkait dengan karir atau kehidupan akademik kita, orang yang berjasa pada kita, orang yang banyak membantu kita, dan yang paling bahaya adalah gebetan kita. Kadang keputusan memberi predikat orang berarti pada yang saya sebutkan terakhir tadi bisa membawa kita ke lembah nista.
Saya mengamati orang-orang rentan terpuruk karena keputusan orang berarti tadi. Tidak jarang orang-orang menjadi galau karenanya. Lebih sedihnya lagi, kegalauan mereka menjadi bagian hidup mereka, diumbar setiap hari, seolah-olah masalah besar di dunia ini adalah perasaan mereka yang kacau. Padahal, banyak di luar sana masalah kemiskinan, kelaparan, konflik, kekeringan, penyakit, dan lain-lain. Kondisi ini menurut saya mengurangi kapasitas mereka untuk menjadi produktif. Coba kalau dipikir ulang, memangnya siapa sih yang membuat mereka galau itu? Orang kan? Orang biasa yang mereka putuskan untuk menjadi berarti. Lalu kenapa dipusingkan bila tidak bisa menjadi saling berarti? Dalam sebuah film India yang saya lupa judulnya, tokoh perempuan bilang, "Saya tidak bisa hidup tanpamu". Kemudian tokoh laki-laki menanggapi, "Sebelum kamu kenal saya, bukankah kamu hidup? Kamu menjalani hari seperti biasa dan sehat-sehat saja?". Benar sekali, untuk hidup, yang kita butuhkan paling utama sebenarnya adalah oksigen, makanan, dan minuman. Lalu kenapa sesak nafas bila ditinggal orang berarti karena keputusan?
Masih ingat obat hati? Sebenarnya tidak usah khawatir bila kita menderita sakit qalbu karena sudah disediakan obatnya. Salah satunya adalah Qur'an. Dalam ajaran Islam, kita diperintahkan untuk ikhlas. Apalah kita ini menuntut sesuatu yang tidak kita ikhlaskan pada pemberi hidup. Ternyata ikhlas ini adalah salah satu kunci dalam kehidupan. Pernah di Masjid Keraton Yogyakarta saya mendengar Kultum tentang salah satu kunci dikabulkannya do'a. Kuncinya adalah khusuk. Bagaimana kita bisa khusuk bila kita tidak ikhlas? Hati dan pikiran kita akan kacau, frekuensi keinginan kita akan kacau sehingga tidak stabil di alam semesta. Sulit untuk sampai. Kita memaksa Tuhan mengabulkan keinginan kita. Sangat kacau. Tidak bisa khusuk. Bila kita ikhlas, kita tidak akan menderita bila kita ditinggal oleh orang yang kita anggap berarti.
Lebih lanjut, apapun yang kita miliki di dunia ini bukanlah mutlak milik kita, hanya titipan Yang Maha Kuasa. Diumpamakan penjaga parkir di sebuah mall. Di wilayahnya dia menguasai banyak mobil dan motor, namun dia tidak boleh sedih bila kendaran-kendaraan tersebut dibawa pulang kembali oleh pemiliknya. Dari awal memang itu bukan milik si penjaga parkir. Pasca menyadari ini, saya pernah kejambretan tab yang sangat mahal. Harganya senilai 2 bulan keseluruhan uang saku beasiswa saya. Dijambret di depan mata. Teman saya yang cowok pada saat itu berlari mengejar jambret yang naik motor. Tentu saja tidak mungkin dapat. Saya langsung mengajak teman-teman saya ke kedai Cikini untuk makan sesuai tujuan awal kami. Teman-teman saya bingung, kok saya tidak sedih sama sekali. Saya sudah menyadari bahwa apapun milik kita bukanlah milik kita. Bila sudah hilang, harusnya diikhlaskan.
Tidak perlu menautkan hati kita kuat-kuat pada orang yang kita putuskan beri predikat berarti. Orang-orang yang lalu lalang di kehidupan kita mungkin saja sama seperti orang yang kita temui di kereta, kita temui di mall, kita temui di tempat wisata. Kenapa kita sebegitu hebatnya menjadikan orang tertentu berarti buat kita? Smart person will directly move on when he or she knows he or she is unwanted. May be our meeting with certain person is just another phase on our way to grave.
Jumat, 18 November 2016
Not a Big Deal Part 2
Pagi ini tiba-tiba saya melihat postingan langka dari senior saya di teater. Iya, langka, karena orang ini hampir tidak pernah muncul di sosmed. Dia adalah senior saya baik di teater maupun di jurusan. Postingannya pagi ini adalah share pertunjukan teaternya di Jepang. Selain hari ini, saya kadang melihat orang ini di tag dalam postingan orang lain terkait pertunjukan teaternya di Australia dan di negara-negara Eropa. Saya sempat menyimpulkan sebentar bahwa orang harus memilih salah satu untuk ditekuni dan terjun total di dalamnya. Pemikiran itu muncul setelah saya melihat senior saya tersebut yang saat ini telah menjadi aktor teater profesional di sebuah teater paling ternama di salah satu kota budaya di Indonesia. Selain pentas di berbagai negara, dia juga pernah saya lihat main film karya salah satu sutradara paling terkenal di Indonesia. Terjun total yang mengantarkan sukses besar ini dibayar dengan mengorbankan sekolah. Bukan mengorbankan mungkin, tapi pilihan. Dia tidak melanjutkan sekolah lagi sejak sibuk di teater.
Pemikiran memilih salah satu untuk kesuksesan tadi hanya mampir sebentar di otak saya. Kemudian saya teringat pesan orang-orang founding father teater ternama itu yang disampaikan pada teman saya. Teman saya ini juga merupakan salah satu aktor dalam teater tersebut. Kebetulan teman ini menceritakan pesan itu pada saya. Mereka mengatakan bahwa apapun yang terjadi, menyelesaikan sekolah itu penting. Apapun pencapaian sesuai passion kita, menyelesaikan sekolah itu seharusnya tetap harus dilakukan.
Ada banyak alasan yang membuat saya setuju dengan hal tersebut. Pertama, mungkin ini adalah alasan yang paling dangkal, kalau kita menyelesaikan sekolah, kita akan punya ijazah dan gelar. Saya pikir ini pasti ada manfaatnya dalam kehidupan kita. Kedua, mempertimbangkan sayangnya waktu dan biaya yang sudah ditempuh dan dihabiskan untuk sekolah sampai memutuskan give up. Saya pikir sayang rasanya untuk tidak melanjutkan bila mengingat bagaimana usaha kita dari awal sekolah, waktu yang dilalui dan uang yang dibayarkan, padahal melanjutkan cuma butuh alokasi waktu yang cukup cepat dan sedikit lagi bila bersungguh-sungguh. Ketiga, saya jadi ingat salah satu bagian di buku tulisan kakak kelas saya waktu S2, di situ dikatakan apapun pilihan karir kita nanti, bila kita sudah dapat menulis tugas akhir dengan baik, benar, dan sistematis (tentu saja menyelesaikannya ya), kita akan dapat menyelesaikan pekerjaan dan berbagai masalah baik dalam karir dan kehidupan pasca sekolah dengan lebih baik. Pun dalam hal menyikapi hidup menurut saya. Hal tersebut dipengaruhi oleh cara berpikir kita yang sudah sistematis dan logis dalam menyelesaikan tugas akhir tadi. Kemudian saya teringat salah satu roman Pram, Bumi Manusia. Di salah satu bagiannya, diceritakan Raden Mas Minke, tokoh utama roman tersebut sedang dalam kesulitan menyelesaikan sekolah. Kusir kereta kuda yang sedang mengantarnya bertanya buat apa melanjutkan sekolah bila sekarang dia sudah hidup berkecukupan. Minke mengatakan bila dia tidak lulus sekolah, rasanya dia tidak lulus dalam hal-hal lain dalam kehidupan. Saya pikir ini dapat dijelaskan dengan pemikiran kakak kelas saya dalam bukunya tadi.
Lebih lanjut, menyelesaikan sekolah menurut saya bukan perkara besar. Lagi-lagi it's not a big deal. Dibandingkan upaya untuk mencapai hal besar di luar sekolah tadi, pergi ke sekolah menurut saya bukan hal berat. Kita tinggal mengambil kelas-kelas yang harus dipenuhi dan menyelesaikan tugas akhir. Bagaimana dengan tugas akhir ini? Teman saya pernah bilang kalau sudah menyelesaikan tugas akhir, kemungkinan besar akan berpikir, "Oalah, ternyata cuma gitu doang". Dan memang benar menurut saya. Setelah berpusing-pusing, kadang bingung dengan topik tulisan kita, setelah berbagai upaya bimbingan dan penulisan, kita biasanya akan menemukan celahnya, biasanya sangat simpel dan membuat kita berkata, "Ternyata cuma gitu doang".
Sahabat terbaik saya pernah mengatakan, "If you want to master something, you have to teach it". Hal tersebut dikatakannya setelah saya menanyakan bagaimana bisa salah satu temannya memiliki gaya Bahasa Inggris yang smooth, tidak kaku pokok grammar bener, dan tidak gaya Inggris Indonesia. Ternyata dia bisa seperti itu karena dia pernah mengajar di salah satu Bimbel B.Inggris. Saya setuju dengan pendapat teman saya. Setelah saya membimbing skripsi mahasiswa, saya pikir saya jadi menguasai dengan baik penulisan tugas akhir. Ini membuat saya tambah berpikir lagi tentang "Oalah, ternyata cuma gitu doang". Dalam satu waktu saya berkewajiban memikirkan banyak sekali skripsi mahasiswa saya dan membimbing arah tujuan hidup tugas akhir ini mau dibawa ke mana. Serius, ini bukan masalah besar. Untuk orang-orang besar yang sudah malang melintang di dunia luar sekolah, saya pikir menulis tugas akhir ini merupakan pekerjaan yang seharusnya sangat biasa. Mungkin ini harus diluagkan seperti diumpamakan sarapan dulu sebelum beraktivitas pagi. Kalau tidak sarapan, nanti sakit perut, nanti lemes, nanti ngantuk, tidak ada asupan nutrisi untuk otak dan tubuh untuk melakukan aktivitas. Sarapan ini sangat effortless, cepat saja, seperti namanya "breakfast". Menyelesaikan sekolah yang tinggal sedikit lagi menurut saya bukan masalah yang besar.
Malang, 20 November 2016.
Malang, 20 November 2016.
Not a Big Deal
Pernah mengalami masa di mana saya menginginkan sesuatu sebegitu hebatnya dan meminta dengan sungguh pada Tuhan. Saya meminta dan memaksa. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana hidup saya bila keinginan saya tersebut tidak dikabulkan. Rasanya seperti jatuh ke jurang yang dalam, mencekam, gelap gulita, hampir tak berujung, dan tidak tau apa yang menanti saya di bawah sana. Itulah kenapa saya memaksa Tuhan untuk mengabulkan doa saya karena saya tidak dapat membayangkan kacaunya hidup saya bila doa tersebut tidak terkabulkan.
Dalam salah satu masa penuh usaha dan penuh harap, ibu saya yang sangat saya sayangi bermimpi bahwa sandal saya hilang. Ibu saya berpikir mungkin ini pertanda bahwa saya tidak berhasil mendapat apa yang saya perjuangkan pada saat itu. Ternyata benar saja, saya memang tidak mendapatkannya.
Setelah dari pagi sampai malam beraktivitas, saya baru ingat bahwa tadi malam saya bermimpi mengikuti suatu beauty pageant. Saya mempersiapkan diri dengan baik. Mempelajari materi dengan baik, make up wajah dan rambut bagus, serta baju yang saya gunakan sudah sempurna. Namun demikian, saya kesulitan menemukan sandal saya, padahal saya ingat betul saya sudah membeli sandal yang sangat indah, heel 14 cm sesuai yang disyaratkan. Saya mencari di penjuru rumah. Saya hanya menemukan 1 sisi sandal, itu pun bukan yang saya maksudkan, kondisinya sudah jelek. Di tempat lain juga, saya hanya menemukan satu sisi sandal yang tidak saya inginkan. Kemudian di rak sepatu, saya menemukan wedges saya, lengkap sepasang, namun bukan wedges yang harusnya dipakai untuk beauty peagant. Wedges itu sangat bagus dan kondisinya juga layak, namun bukan itu yang saya cari. Mimpi saya cuma sampai di situ.
Kemudian saya berpikir, apakah mimpi itu sama dengan mimpi ibu saya yang merupakan pertanda saya akan kehilangan apa yang saya perjuangkan? Hal tersebut sepenuhnya hak mutlak dan misteri dari pemberi hidup. Namun demikian, apabila memang iya, kondisi saya sudah jauh berbeda dengan dulu. Apakah hidup saya hancur ketika saya tidak mendapatkan yang saya upayakan dulu? Ternyata tidak. Saya masih hidup sehat wal afiat, berkecukupan, layak, dan cantik. Ternyata terjun ke jurang yang menakutkan, gelap gulita, tidak tau apa yang menanti saya di bawah sana tidak seburuk yang saya bayangkan. Ternyata di dasar jurang yang gelap itu terdapat matras dan hal-hal yang menyenangkan seperti permen.
Meminjam poster publikasi yang mirip dengan bayangan saya
Tidak mendapatkan hal yang kita upayakan itu bukanlah masalah besar bagi hidup kita. Apabila mimpi saya tadi toh ternyata pertanda untuk kehilangan suatu yang diharapkan, itu adalah hal yang harus diikhlaskan. It's not a big deal. Sesuai dengan fitrah saya sebagai manusia, saya hanya bertugas menjalani skenario yang telah dituliskan oleh Tuhan. Apapun yang digariskan untuk saya, sudah sebaiknya untuk diterima dan dijalani. Dengan demikian, kehidupan akan terasa menyenangkan karena selalu bersyukur. Menjalani hidup yang nerimo dan menikmati apapun yang diberikan untuk saya. Usaha sekuat tenaga sudah pasti, namun apapun yang diberikan pada saya sudah saya ikhlaskan dan pasrahkan pada Tuhan. Saya percaya apapun yang kita anggap sebagai suatu masalah sebenarnya bukanlah hal besar dalam hidup bila kita ikhlas. Bila takut akan jurang yang curam dan gelap gulita, yakinlah, di bawah sana ada matras yang mengamankan kita dan snack-snack yang menyenangkan kita. Hidup kita akan tetap baik-baik saja.
Malang, 18 November 2016.
Sabtu, 12 November 2016
I'll Find Your Professor
Beberapa tahun lalu dikasih tau film indie oleh teman judulnya Fiksi. Film tersebut menceritakan tentang seorang penulis fiksi amatir yang tiba-tiba menyadari bahwa apa yang ditulisnya menjadi kenyataan. Tentang bagaimana cara tulisannya menjadi kenyataan mungkin bisa tonton sendiri filmnya ya. Terkait dengan ini, belakangan aku menyadari bahwa ada salah satu tulisanku yang mirip dengan kenyataan yang aku alami. Tulisan itu adalah naskah film pendek tugas kelas Speaking. Saat itu dosen speaking menjadikan tugas film ini sebagai tugas akhir kelas kami. Sebelumnya saya tidak menyadari tentang kemiripan ini. Beberapa bulan setelah saya menulis naskah itu dan memainkannya dalam film pendek, saya dipertemukan dengan orang yang karakteristiknya mirip tokoh naskah, salah satu scene kejadian detailnya, dan jalan ceritanya sangat mirip dengan naskah tersebut. Setelah kemarin menemukan lagi naskah tersebut di laptop lama saya, saya menyadari hal ini. Kemudian berpikir, kalau hal yang saya tulis bisa menjadi kenyataan (udah pasti kebetulan lah ya), kenapa saya tidak menulis cerita yang happy ending saja. Mungkin saya akan benar-benar menulisnya di waktu luang saya. Namun demikian, saya belum tau akan menulis cerita yang seperti apa. Saya sudah lama tidak menulis fiksi. Kemungkinan ide kreatif saya sudah terkikis. Saya belum tau tokoh ideal seperti apa yang sebaiknya saya tulis, cerita indah happy ending seperti apa yang seharusnya saya tulis.
Beberapa waktu lalu saya mewajibkan diri saya untuk menonton film Inferno sebab saya adalah fans novel-novelnya Dan Brown. Teman yang sama yang memberikan film Fiksi pada saya adalah orang yang meminjamkan novel Da Vinci Code dan Angel and Demon pada saya. Saya pikir saya wajib menonton cerita Profesor Langdon dalam Inferno yang saya tidak sempat membaca novelnya.
Menonton Inferno mengingatkan saya pada satu hal. Oh iya, tenang saja, saya usahakan tulisan ini tidak spoiler filmnya buat yg blm nonton ya. Oke, lanjut. Saya ingat ketika saya punya pilihan antara pejabat atau akademisi. Salah satu teman saya, Novita, dengan tegas menyuruh saya memilih akademisi. Pertimbangannya, pemikirannya lebih dalam dan nanti anak-anak saya akan dididik dengan baik dalam lingkungan pemikiran akademisi. Tentang pejabat dan akademisi ini saat ini mungkin menjadi orang-orang yang telah hilang dari kehidupan saya karena saya terlalu banyak dan lama berpikir. Setelah menonton Inferno, mungkin saya akan menulis tentang akademisi saja untuk cerita fiksi saya.
Terlepas dari cerita intinya yang tidak boleh dibocorkan, pada salah satu scene Prof. Langdon yang merupakan dosen Harvard duduk di teras kampusnya sambil membaca buku ketika dr.Sinsley yang merupakan Sekjen WHO datang meminta bantuannya untuk memecahkan kasus. Dalam scene lain, dr.Sinsley berada di Bandara di Roma, meminta petugas membatalkan penerbangan agar dapat memeriksa penumpang yang akan pergi ke Genewa. Dia berpikir Langdon ada di situ. Kemudian datang tokoh lain yang merupakan pimpinan agen penyedia jasa keamanan swasta mengatakan bahwa Langdon tidak di pesawat itu, melainkan dalam perjalanan kereta menuju Hagia Sophia. Dr. Sinsley tidak percaya pada orang tersebut yang sebelumnya bertindak bertolak belakang mendukung tersangka kasusnya. Namun demikian, orang tersebut meyakinkan dia sudah berubah. Selain itu, dr.Sinsley harus mencoba percaya padanya jika ingin menemukan Langdon. Dia bilang dia melihat ada perhatian khusus dr.Sinsley pada Langdon terlepas dari upaya menemukan Langdon untuk kasus ini. Dia pasti khawatir terhadap profesor. "You have to trust me. I'll find your professor". Your professor.
Menang benar, ternyata Langdon dan Elizabeth Sinsley adalah teman lama. Mereka memiliki potensi untuk hidup bersama di masa lalu namun tidak terjadi karena keduanya memilih impian masing-masing. Langdon tidak mungkin melepas kehidupannya di Harvard dan Sinsley tidak mungkin melepas mimpinya berkarir di Genewa. Namun demikian, karena kehebatan akting Tom hanks dan pemeran Sinsley, dapat dirasakan ketikan scene Sinsley menemui Langdong di Harvard, masih ada perasaan mendalam di antara mereka yang tersimpan bertahun-tahun sampai mereka tua. Mereka berdua sama-sama tidak menikah. Ada scene lagi di pinggir jalan di mana Langdon mempertanyakan kemungkinan di antara mereka, namun Langdong kemudian tiba-tiba diculik penjahat. Di akhir, saat mereka duduk berdua, staf dr.Sinsley memanggilnya. What's now? Kembali ke hidup masing-masing, Langdon ke Boston dan Sinsley ke Genewa. Seperti Dante dan Beatrice, mereka tidak akan pernah bersatu meskipun saling mencintai.
Jadi inget lagi salah satu temenku, Riris, pernah nonton FTV bareng karena gak ada pilihan lain. Dia mengomentari terus ceritanya. Ya namanya juga film Ris. "Tinggal sama ibu pantinya tadi lak ya enak seh", itu kira-kira salah satu komentarnya. Sama seperti Riris, aku juga mau komentar, Langdon sama Sinsley tetep nikah dan LDR lak ya bisa seh. Haha, entah gak ngerti gimana kenungkinannya, kan gak ngerti juga kesibukan dosen Harvard dan Sekjen PBB kayak gimana.
Cerita yang mungkin kutulis, mempertimbangkan banyak hal, sepertinya tokoh utamanya akan meraih cita-citanya. Melihat dunia yang luas dengan karir terbaik semampu dia bisa. Apakah saya harus menemukan profesor untuk cerita saya? Saya pikir dulu dengan berbagai pertimbangan. Apakah bisa profesor dan karir yang saya inginkan bisa sejalan. Bisa menurut saya. Saya belum tau cerita fiksi saya mau dibawa ke mana. Untuk tokoh saya, I'll find your professor. May be.
Malang, 12 November 2016.
Beberapa waktu lalu saya mewajibkan diri saya untuk menonton film Inferno sebab saya adalah fans novel-novelnya Dan Brown. Teman yang sama yang memberikan film Fiksi pada saya adalah orang yang meminjamkan novel Da Vinci Code dan Angel and Demon pada saya. Saya pikir saya wajib menonton cerita Profesor Langdon dalam Inferno yang saya tidak sempat membaca novelnya.
Menonton Inferno mengingatkan saya pada satu hal. Oh iya, tenang saja, saya usahakan tulisan ini tidak spoiler filmnya buat yg blm nonton ya. Oke, lanjut. Saya ingat ketika saya punya pilihan antara pejabat atau akademisi. Salah satu teman saya, Novita, dengan tegas menyuruh saya memilih akademisi. Pertimbangannya, pemikirannya lebih dalam dan nanti anak-anak saya akan dididik dengan baik dalam lingkungan pemikiran akademisi. Tentang pejabat dan akademisi ini saat ini mungkin menjadi orang-orang yang telah hilang dari kehidupan saya karena saya terlalu banyak dan lama berpikir. Setelah menonton Inferno, mungkin saya akan menulis tentang akademisi saja untuk cerita fiksi saya.
Terlepas dari cerita intinya yang tidak boleh dibocorkan, pada salah satu scene Prof. Langdon yang merupakan dosen Harvard duduk di teras kampusnya sambil membaca buku ketika dr.Sinsley yang merupakan Sekjen WHO datang meminta bantuannya untuk memecahkan kasus. Dalam scene lain, dr.Sinsley berada di Bandara di Roma, meminta petugas membatalkan penerbangan agar dapat memeriksa penumpang yang akan pergi ke Genewa. Dia berpikir Langdon ada di situ. Kemudian datang tokoh lain yang merupakan pimpinan agen penyedia jasa keamanan swasta mengatakan bahwa Langdon tidak di pesawat itu, melainkan dalam perjalanan kereta menuju Hagia Sophia. Dr. Sinsley tidak percaya pada orang tersebut yang sebelumnya bertindak bertolak belakang mendukung tersangka kasusnya. Namun demikian, orang tersebut meyakinkan dia sudah berubah. Selain itu, dr.Sinsley harus mencoba percaya padanya jika ingin menemukan Langdon. Dia bilang dia melihat ada perhatian khusus dr.Sinsley pada Langdon terlepas dari upaya menemukan Langdon untuk kasus ini. Dia pasti khawatir terhadap profesor. "You have to trust me. I'll find your professor". Your professor.
Menang benar, ternyata Langdon dan Elizabeth Sinsley adalah teman lama. Mereka memiliki potensi untuk hidup bersama di masa lalu namun tidak terjadi karena keduanya memilih impian masing-masing. Langdon tidak mungkin melepas kehidupannya di Harvard dan Sinsley tidak mungkin melepas mimpinya berkarir di Genewa. Namun demikian, karena kehebatan akting Tom hanks dan pemeran Sinsley, dapat dirasakan ketikan scene Sinsley menemui Langdong di Harvard, masih ada perasaan mendalam di antara mereka yang tersimpan bertahun-tahun sampai mereka tua. Mereka berdua sama-sama tidak menikah. Ada scene lagi di pinggir jalan di mana Langdon mempertanyakan kemungkinan di antara mereka, namun Langdong kemudian tiba-tiba diculik penjahat. Di akhir, saat mereka duduk berdua, staf dr.Sinsley memanggilnya. What's now? Kembali ke hidup masing-masing, Langdon ke Boston dan Sinsley ke Genewa. Seperti Dante dan Beatrice, mereka tidak akan pernah bersatu meskipun saling mencintai.
Jadi inget lagi salah satu temenku, Riris, pernah nonton FTV bareng karena gak ada pilihan lain. Dia mengomentari terus ceritanya. Ya namanya juga film Ris. "Tinggal sama ibu pantinya tadi lak ya enak seh", itu kira-kira salah satu komentarnya. Sama seperti Riris, aku juga mau komentar, Langdon sama Sinsley tetep nikah dan LDR lak ya bisa seh. Haha, entah gak ngerti gimana kenungkinannya, kan gak ngerti juga kesibukan dosen Harvard dan Sekjen PBB kayak gimana.
Cerita yang mungkin kutulis, mempertimbangkan banyak hal, sepertinya tokoh utamanya akan meraih cita-citanya. Melihat dunia yang luas dengan karir terbaik semampu dia bisa. Apakah saya harus menemukan profesor untuk cerita saya? Saya pikir dulu dengan berbagai pertimbangan. Apakah bisa profesor dan karir yang saya inginkan bisa sejalan. Bisa menurut saya. Saya belum tau cerita fiksi saya mau dibawa ke mana. Untuk tokoh saya, I'll find your professor. May be.
Malang, 12 November 2016.
Quand J'étais Petit
Karena sedikit flu, tadi ketiduran sore-sore. Mimpi tentang tempat-tempat masa kecil. Tentang rumah joglo nenek, tentang makanan favorit, dan pasar tradisional terdekat, tentang tante, sepupu, dan kakek.
Kemudian terbangun dan merindukannya. Sudah jauh sekali ya. Tidak terasa, sepertinya baru kemarin masa-masa kecil itu. Bahkan aku ingat jelas, seperti baru kemarin ketika aku masih tinggal di rumah joglo nenek yang berarti sudah lama sekali, ketika orang tuaku belum punya rumah sendiri. Ketika masih balita, aku membuntuti ibukku yang pergi ke samping rumah joglo untuk memetik sayuran. Kami harus melewati parit kecil yang jernih airnya. Aku ikut-ikutan ibukku memetik daun-daunan. Kata ibukku, "Bukan yang seperti itu. Petik yang muda!". Aku tidak mengerti dan asal memetik saja. Kemudian ibukku menunjukkan contohnya, "Yang seperti ini lho", memperlihatkan pucuk sayuran.
Iya, sepertinya baru kemarin.
Ibukku adalah orang yang multi talenta. Dia bisa menyanyi, membaca not, menari, menjahit, memotong rambut, make up, dan masih banyak lagi. Kenangan balita lain adalah tentang rekaman menyanyi. Ibukku mengajariku menyanyi Ibu Kita Kartini dan merekamnya pada pita kaset. Aku suka rekaman itu dan terus memutarnya. Kaset itu memperdengarkan ibukku mengajariku nyanyi. Ada suaraku yang tertatih dan dibetulkan oleh ibuk.
Masih balita, aku sering ikut bapak atau ibukku ke sekolah tempat mereka mengajar. Aku lebih suka ikut ibuk sih, karena sekolahnya berada di kota. Saat jam istirahat aku suka diajak ke semacam mini market. Toko tersebut dimiliki oleh pengusaha multi field. Usahanya berbagai bidang, mulai dari kayu gelondongan, jual beli hasil bumi, dan mini market. Mini marketnya berada jauh di dalam ruangan gudang yg berisi karung-karung beras dan agak gelap. Namun demikian, setelah sampai di mini market, suasananya berubah jadi terang benderang dan menyenangkan, banyak jajanannya. Aku paling suka Roti Milkis. Aku selalu notice sensasi perubahan memasuki gerbang gudang yang gelap dan agak seram, ada banyak karung bertumpuk, kemudian sampai di pintu mini market yang menyenangkan, terang benderang, wangi, dan banyak makanan.
Suatu hari kami pergi ke tempat itu untuk berbelanja. Aku masih ingat ibukku memakai seragam warna biru. Aku dituntun oleh ibuk memasuki gudang. Gelap. Aku merasa selama ada ibuk, semua pasti beres dan aman. Namun demikian, hari itu kami mengalami kejadian yg tidak pernah kami alami sebelumnya. Di pojok-pojok gudang gelap itu ternyata ada anjing-anjing yang sedang duduk. Menyadari kehadiran kami, anjing-anjing tersebut bangun, menggonggong dan mendatangi kami. Aku menjerit ketakutan. Kurasa ibukku juga takut, tapi dia kemudian memelukku dan berusaha menghalau anjing-anjing tersebut. Dalam pelukan ibukku terus menangis membayangkan anjing-anjing tersebut tetap mengerumuni kami. Aku masih mendengar gonggongan mereka. Ibukku terus menghalau mereka. Suara gonggongan masih terdengar, hingga ada ibu-ibu pekerja gudang tersebut muncul dari luar dan menghalau anjing-anjingnya. Mereka patuh pada ibu tersebut dan pergi dari kami. Ibu itu mengatakan bahwa anjing-anjing itu baru dipelihara oleh yg punya gudang. Setelah berterimakasih, kami pergi ke mini market. Sebelum pulang, pemilik mini market memastikan bahwa anjingnya sudah diamankan, jadi kami tidak perlu takut melewati gudang.
Saat itu aku merasa ketakutan, tapi aku berpikir bahwa ibukku melindungiku dari apapun yang terjadi di dunia ini. Dalam pelukannya, aku merasa aman, tapi juga khawatir bagaimana kalau anjing-anjing itu tetap menyerang kami, bagaimana dengan ibukku. Tuhan, terimakasih telah memberikanku ibuk yang selalu melindungiku, tetap menyayangiku apapun yang terjadi.
Ada yang lucu. Waktu itu kami pergi ke pusat perbelanjaan. Selain belanja barang kebutuhan, orang tuaku membelikan aku kotak nasi anak-anak, baju, dan makanan ringan. Mungkin uang mereka sudah cukup banyak dibelanjakan. Keluar dari toko, aku melihat kursi plastik bentuk Donal Bebek dipajang di teras toko tersebut. Aku minta dibelikan kursi itu. Ibukku bilang, "Udah banyak beli barang-barang gitu lho tadi". Aku tetap minta dibelikan kursi itu sambil merengek. Mereka tetap tidak mau membelikan. Aku masih terus meminta. Mereka mengancam mau meninggalkanku untuk pulang kalau aku masih terus merengek. Aku melepaskan tanganku dari ibukku dan memeluk kursi itu sambil minta dibelikan. Ibukku bilang, "Ayo pulang". Aku tetap stay. Akhirnya mereka berdua pergi ke parkiran. Sebenarnya aku panik, tapi tetap bengong memperhatikan mereka sambil memeluk kursi Donal Bebek. Mereka sudah naik motor di depan teras. Aku bingung juga, masa aku benar-benar ditinggal sih? Tapi aku tetap ndeprok dan memeluk kursi. "Ayo, ikut pulang gak?" kata ibukku. Aku tetap bertahan di teras toko. Dalam hati aku takut juga sih kalau benar-benar ditinggal. Akhirnya ibukku turun dari motor juga dan membelikanku kursi Donal Bebek itu, padahal mungkin uang mereka mau dialokasikan untuk kebutuhan yang lebih penting. Haha. Kursi dan rantang makan anak-anak itu sampai sekarang masih ada lho. Rantangnya cuma mangkrak di rak piring, kalau kursinya masih tiap hari dipakai. Mungkin barang dulu awet-awet karena dibuat dengan bahan yang lebih baik.
Tiap kali menjalani psikotest yg ada gambar pohonnya, aku selalu menggambar pohon yang akarnya besar dan kuat, gak sengaja selalu begitu. Kenapa ya? Apakah itu mencerminkan bahwa hati dan pikiran kita kuat mencengkeram latar belakang kita, keluarga besar, dan masa kecil kita? Aku mencintai keluargaku. Sangat.
Malang, 12 November 2016.
Kemudian terbangun dan merindukannya. Sudah jauh sekali ya. Tidak terasa, sepertinya baru kemarin masa-masa kecil itu. Bahkan aku ingat jelas, seperti baru kemarin ketika aku masih tinggal di rumah joglo nenek yang berarti sudah lama sekali, ketika orang tuaku belum punya rumah sendiri. Ketika masih balita, aku membuntuti ibukku yang pergi ke samping rumah joglo untuk memetik sayuran. Kami harus melewati parit kecil yang jernih airnya. Aku ikut-ikutan ibukku memetik daun-daunan. Kata ibukku, "Bukan yang seperti itu. Petik yang muda!". Aku tidak mengerti dan asal memetik saja. Kemudian ibukku menunjukkan contohnya, "Yang seperti ini lho", memperlihatkan pucuk sayuran.
Iya, sepertinya baru kemarin.
Ibukku adalah orang yang multi talenta. Dia bisa menyanyi, membaca not, menari, menjahit, memotong rambut, make up, dan masih banyak lagi. Kenangan balita lain adalah tentang rekaman menyanyi. Ibukku mengajariku menyanyi Ibu Kita Kartini dan merekamnya pada pita kaset. Aku suka rekaman itu dan terus memutarnya. Kaset itu memperdengarkan ibukku mengajariku nyanyi. Ada suaraku yang tertatih dan dibetulkan oleh ibuk.
Masih balita, aku sering ikut bapak atau ibukku ke sekolah tempat mereka mengajar. Aku lebih suka ikut ibuk sih, karena sekolahnya berada di kota. Saat jam istirahat aku suka diajak ke semacam mini market. Toko tersebut dimiliki oleh pengusaha multi field. Usahanya berbagai bidang, mulai dari kayu gelondongan, jual beli hasil bumi, dan mini market. Mini marketnya berada jauh di dalam ruangan gudang yg berisi karung-karung beras dan agak gelap. Namun demikian, setelah sampai di mini market, suasananya berubah jadi terang benderang dan menyenangkan, banyak jajanannya. Aku paling suka Roti Milkis. Aku selalu notice sensasi perubahan memasuki gerbang gudang yang gelap dan agak seram, ada banyak karung bertumpuk, kemudian sampai di pintu mini market yang menyenangkan, terang benderang, wangi, dan banyak makanan.
Suatu hari kami pergi ke tempat itu untuk berbelanja. Aku masih ingat ibukku memakai seragam warna biru. Aku dituntun oleh ibuk memasuki gudang. Gelap. Aku merasa selama ada ibuk, semua pasti beres dan aman. Namun demikian, hari itu kami mengalami kejadian yg tidak pernah kami alami sebelumnya. Di pojok-pojok gudang gelap itu ternyata ada anjing-anjing yang sedang duduk. Menyadari kehadiran kami, anjing-anjing tersebut bangun, menggonggong dan mendatangi kami. Aku menjerit ketakutan. Kurasa ibukku juga takut, tapi dia kemudian memelukku dan berusaha menghalau anjing-anjing tersebut. Dalam pelukan ibukku terus menangis membayangkan anjing-anjing tersebut tetap mengerumuni kami. Aku masih mendengar gonggongan mereka. Ibukku terus menghalau mereka. Suara gonggongan masih terdengar, hingga ada ibu-ibu pekerja gudang tersebut muncul dari luar dan menghalau anjing-anjingnya. Mereka patuh pada ibu tersebut dan pergi dari kami. Ibu itu mengatakan bahwa anjing-anjing itu baru dipelihara oleh yg punya gudang. Setelah berterimakasih, kami pergi ke mini market. Sebelum pulang, pemilik mini market memastikan bahwa anjingnya sudah diamankan, jadi kami tidak perlu takut melewati gudang.
Saat itu aku merasa ketakutan, tapi aku berpikir bahwa ibukku melindungiku dari apapun yang terjadi di dunia ini. Dalam pelukannya, aku merasa aman, tapi juga khawatir bagaimana kalau anjing-anjing itu tetap menyerang kami, bagaimana dengan ibukku. Tuhan, terimakasih telah memberikanku ibuk yang selalu melindungiku, tetap menyayangiku apapun yang terjadi.
Ada yang lucu. Waktu itu kami pergi ke pusat perbelanjaan. Selain belanja barang kebutuhan, orang tuaku membelikan aku kotak nasi anak-anak, baju, dan makanan ringan. Mungkin uang mereka sudah cukup banyak dibelanjakan. Keluar dari toko, aku melihat kursi plastik bentuk Donal Bebek dipajang di teras toko tersebut. Aku minta dibelikan kursi itu. Ibukku bilang, "Udah banyak beli barang-barang gitu lho tadi". Aku tetap minta dibelikan kursi itu sambil merengek. Mereka tetap tidak mau membelikan. Aku masih terus meminta. Mereka mengancam mau meninggalkanku untuk pulang kalau aku masih terus merengek. Aku melepaskan tanganku dari ibukku dan memeluk kursi itu sambil minta dibelikan. Ibukku bilang, "Ayo pulang". Aku tetap stay. Akhirnya mereka berdua pergi ke parkiran. Sebenarnya aku panik, tapi tetap bengong memperhatikan mereka sambil memeluk kursi Donal Bebek. Mereka sudah naik motor di depan teras. Aku bingung juga, masa aku benar-benar ditinggal sih? Tapi aku tetap ndeprok dan memeluk kursi. "Ayo, ikut pulang gak?" kata ibukku. Aku tetap bertahan di teras toko. Dalam hati aku takut juga sih kalau benar-benar ditinggal. Akhirnya ibukku turun dari motor juga dan membelikanku kursi Donal Bebek itu, padahal mungkin uang mereka mau dialokasikan untuk kebutuhan yang lebih penting. Haha. Kursi dan rantang makan anak-anak itu sampai sekarang masih ada lho. Rantangnya cuma mangkrak di rak piring, kalau kursinya masih tiap hari dipakai. Mungkin barang dulu awet-awet karena dibuat dengan bahan yang lebih baik.
Tiap kali menjalani psikotest yg ada gambar pohonnya, aku selalu menggambar pohon yang akarnya besar dan kuat, gak sengaja selalu begitu. Kenapa ya? Apakah itu mencerminkan bahwa hati dan pikiran kita kuat mencengkeram latar belakang kita, keluarga besar, dan masa kecil kita? Aku mencintai keluargaku. Sangat.
Malang, 12 November 2016.
Selasa, 25 Oktober 2016
The Last Sunset
Opening music: Jogja, Kla Project
View the traffic of Jogja around the crossroad of Malioboro.
Int: Restaurant, afternoon about 2 p.m
It’s showed in a glance the situation inside the restaurant. People are enjoying their meal.
From the entrance door, a girl is entering the restaurant. She directly goes to one spot of the restaurant where a man sits enjoying his drink.
Tyas:
Oh, I’m so sorry for my being late. (She sits in front of the man’s chair)
Andre:
It’s no problem.
Tyas:
I thought that you’ll not come.
Andre:
Hey, how can you think like that? I’m who called you and asked you to meet. How can I do not come?
Tyas:
It can be.
I just, I didn’t believe when I received your call several days ago. I didn’t believe that it’s you. It has been so long. I thought you’ve forgotten me.
Andre:
Oh, Tyas, I’m so sorry…
Tyas:
No, don’t say sorry. I absolutely understand about it.
(Now they are in silence)
A waiter comes
Andre:
What do you want to eat?
Tyas:
Let me see. (She takes the menu and read it)
Andre:
Please order for me. Do you still remember my favorite food in this restaurant?
Tyas:
Yeah, of course. I’ll never forget it. (Tyas gives the order to the waiter)
I’ll never forget anything about you. Every minute we passed together, including this restaurant. Hey, congratulation, btw.
Andre:
For what?
Tyas:
Of course for your marriage planning.
Andre:
Tyas, do you still angry to me?
Tyas:
Andre, please. I’m not such an immature person. I absolutely know that relationship will not always be end in marriage. May be our relationship was very beautiful at that time, but you went away suddenly, you left me without notification before, without I know the reason why. I can receive it. May be I was just your short-period love when you’re in Jogja.
Andre:
Please don’t say like that.
Tyas:
Say what? Say that I think you just make me your temporar girl when you’re 2 years in Jogja.
Andre:
Tyas…
Tyas:
Oh, don’t worry. I’m just kidding.
Andre:
I never consider you as my short-time love. I really love you since the first time I saw you dancing in Sultan Palace. It was my first time visiting Jogja. My office colleagues asked me to make a tour in the first Sunday I lived in Jogja.
Tyas:
It’s Sunday. You should come from Jakarta early, so that you can see the Java dance performance performing every Sunday morning in Sultan Palace. It probably can call back the memory when we met for the first time.
Andre:
Do you still dance, Tyas?
Tyas:
Sometimes.
(The waiter comes bringing their meal)
Tyas:
Why do you come here?
Andre:
For business reason.
Tyas:
And, why do you want to see me?
Andre:
Tyas, listen, I’ll never be able to forget you. Since I asked to take your picture after you performed at Sultan Palace 4 years ago, we introduced our self each other. I waited you outside the make-up room until you change your costume and you accompanied me to go to Taman Sari, walked together in complex of Ngasem then shopped in many batik shops there, ate Gudeg in Wijilan, then we spent the sunset in Alun-alun Selatan. I love it all, it can't be deleted from my memory and I’ll never want to delete it. I’ll save it in my heart and my memory, both you and Yogyakarta.
Tyas:
You love it? Why do you leave me at that time?
Andre:
You know, I move to the central office in Jakarta suddenly. I handled many jobs. A month later, got my master scholarship from my company. I went to German about 1.5 years. Coming back from German, I handled many jobs in my office. I was trapped in my duties day and night. I also trapped in my relationship with one of my job colleagues now being my fiancé.
Tyas:
Do you still love me?
Andre:
Yeah. After I have done my hard study, hard work and never ending job, the noise of Jakarta, I really want to go home to Jogja, see you again, a girl I love in this lovely city. It gives a peace for my soul.
Tyas:
Really?
Andre:
Yes, I always want to go home here to Jogja and to you, like Mark Antony who really love Egypt and Cleopatra. He wanted to spend his old time and die in Egypt. So do I. If I could choose, I will chose to spend my old time and die here in lovely and peace Jogja beside you.
Tyas:
So, marry me.
Andre:
Tyas, I can’t.
Tyas:
Why?
Andre:
Of course, I can’t leave my fiancé. Our marriage is next week.
Tyas:
You were able to leave me 2 years ago.
Andre:
The situation is different.
Tyas:
I know, don’t worry.
Don’t you know, Andre? After you went away from me without any news, I really depressed. I came here almost every day. This was our favorite place. I can’t share my feeling to anyone but the owner of this restaurant. It’s heard so crazy, right? But, it is past. Let’s forget it.
Andre:
I’m so sorry. Are you with someone now?
Tyas:
No one is better than you. No one can replace you from my heart. Hey, your marriage is few day later, why do you want to meet your ex girlfriend?
Andre:
Before I marry, I want to have a last date with you. Go home to Jogja, the place where I found a girl I love in the past.
Tyas:
Are you sure that you don’t want to leave her and marry me?
Andre:
Tyas, it’s impossible.
Tyas:
Ok, I see. Just the last date before you become the husband of the other girl, right? I absolutely understand.
So, where do you really want to visit?
Andre:
What do you mean?
Tyas:
You said that you want to enjoy Jogja. If it was your very last chance to visit Jogja, and you just only had one choice, which place do you really want to spend your last visit here?
Andre:
I think I want to visit Alun-alun kidul, because there was our first date. I love the sunset at that place.
Tyas:
I’ll take you there. Finish your meal! Don’t forget to finish your drink. It’s a new menu in this place. I visit this restaurant regularly, so I know it.
(Andre drinks)
Andre:
Are you sure you will accompany me there? (He gives the sign to call the waiter and pay the bill)
Tyas:
Of course. We can walk through the complex of Ngasem. I think you have to hurry. You want to get there soon, right?
(Tyas stands and picks Andre’s hand, guides him to walk leave the restaurant)
Tyas:
(Whispering to Andre)
Who knows it is your last chance to visit there.
They walk along the area of Ngasem.
Ext: Alun-alun Kidul, sunset about 5 p.m
Andre and Tyas are sitting in the grass of Alkid.
Tyas:
Is it Ok if you meet me now?
Andre:
No one knows I meet you. I can guaranty it.
Tyas:
Good.
Andre:
What?
Tyas:
It means that there is no problem with your next-week wedding party, right?
Andre:
(Sees the two big Banyan trees in the center of Alkid) Do you believe in the myth that if we can walk pass between the two of those Banyan trees with the closed eyes, our wishes will come true?
Tyas:
No, I passed there, but I can’t get you back.
(Andre looks at Tyas)
Tyas:
I’m kidding. I don’t believe it, because it’s not written in the religion precept. If I believe that kind of myth, I’ll not be able to smell the fragrant of the paradise.
Andre:
Let’s try to pass it.
Tyas:
I’ve said that I don’t believe it.
Andre:
Ok. (He looks not feeling well)
I think I’m a little bit tired after my trip from Jakarta. I don’t feel all right.
Tyas:
What do you feel?
Andre:
I feel sick. Rather pain in the heart. May be I’m cold.
Tyas:
I feel the same when you leave me, and the feeling is worse when I heard about your marriage plan. It’s sick.
Andre:
What do you mean Tyas?
Tyas:
Do you think that I can easily forget you and consider it’s like nothing happen? I can’t let you go that easy.
(Andre become deteriorate)
Tyas:
I put a poison in your drink. I told the owner of the restaurant, who now becomes my friend after I often visit there and share my sadness about you, to put the poison in your drink.
Andre:
What?
Tyas:
I can’t let you go. I can’t let you become hers. It’s better for you to die rather than belong to someone else.
Andre:
How can you do that?
Tyas:
You’re the one in my life. I can’t let you become the husband of the other girl. I can’t.
(Andre is weaker. He produces much sweat in his face)
(The sun’s gone. It’s darker)
(Tyas takes Andre to her lap)
Tyas:
Oh, come here sweat heart.
I’m so sorry you can’t attend your own wedding next week.
Marx Antony got his want to die in Egypt.
You get your want to die in your beloved Jogja.
You’re such a bad boy playing with a girl’s heart.
You should die soon. At least, you die in front of the girl who really loves you.
Sleep in peace, darling.
Andre:
Tyas, you’re …
(He died)
Tyas:
(Crying)
It’s never been such a silence.
(Closing song: the middle part of song Jogja Kla project)
View Tyas and Andre in her lap, wider to the noise of Alkid, then the crossroad of malioboro at night.
The End.
Langganan:
Postingan (Atom)
